If you're the bird whenever we pretend it's summer
Then I'm the worm, I know the part, it's such a bummer
But fair is fair, if my segments get separated
I'll scream and you'll be there
Close your eyes, close my eyes
Slide the cotton off of your shoulder
And feel the shine, feel the shine
I'm hooked so toss me over and cast a line, oh I'll try
Oh, throw a party and greet my undersea friends
It depends, as they arrive, if they arrive
You and I left our troubles far behind, troubles far behind
But I still have just one more question on my mind
For all my pals who live in the oceans and the seas
With friends like these well, who needs enemies
If I'm your boy, let's take a short cut we remember
And we'll enjoy, picking apples in late September
Like we've done for years
Then we'll take a long walk through the corn field
And I'll kiss you between the ears
If you're my girl, swirl me around your room with feeling
And as we twirl, the glow in the dark stars on your ceiling
Will shine for us, as love sweeps over the room
'Cause we tend to make each other blush, you make me blush
You and I left our troubles far behind, troubles far behind
But I still have just one more question on my mind
For all my pals who live in the oceans and the seas
With fronds like these well, who needs anemones?
You're the bird and I'm the worm and it's plain to see
That we were meant to be
We were meant to be
We were meant to be
If you're the bird
If you're the bird
Then I'm the worm
We were meant to be
Fear grows with intelligence. Power comes with the mastery of fear, not in the ignorance of it. keep follow me @indahtsh
Senin, 22 Oktober 2012
Sabtu, 20 Oktober 2012
The Light In My Darkest Moments ♥
People come into your life for a reason, a season or a lifetime.
When you know which one it is, you will know what to do for that person…
When someone is in your life for a REASON, it is usually to meet a need you have expressed.
They have come to assist you through a
difficulty, to provide you with guidance and support, to aid you
physically, emotionally or spiritually.
They may seem like a godsend and they
are. They are there for the reason you need them to be. Then, without
any wrong doing on your part or at an inconvenient time, this person
will say or do something to bring the relationship to an end.
Sometimes they die. Sometimes they walk
away. Sometimes they act up and force you to take a stand. What we must
realize is that our need has been met, our desire fulfilled, their work
is done. The prayer you sent up has been answered and now it is time to
move on.

Some people come into your life for a
SEASON, because your turn has come to share, grow or learn. They bring
you an experience of peace or make you laugh. They may teach you
something you have never done. They usually give you an unbelievable
amount of joy. Believe it, it is real. But only for a season.

LIFETIME relationships teach you lifetime
lessons, things you must build upon in order to have a solid emotional
foundation. Your job is to accept the lesson, love the person and put
what you have learned to use in all other relationships and areas of
your life. It is said that love is blind but friendship is clairvoyant.
“Thank you for being a part of my life,
whether you were a reason, a season or a lifetime.”
Kamis, 18 Oktober 2012
5 Rupa-rupa Teman
Kenalan: Saking hobinya gaul sana-sini, kita jadi punya banyak kenalan. Hehehe…Yup, tipe ini merupakan tingkatan paling dasar dalam berteman. Biasanya, jumlahnya cukup banyak dan berasal dari berbagai kalangan. Meskipun nggak kenal dekat dan jarang bertemu, jangan berlaku seenaknya dengan mereka. Bersikap sombong atau malah sok akrab, itu sama nggak oke-nya. Dari kenalan, wawasan dan pengetahuan jadi makin luas.
Frienemy: “Temenan sih, tapi agak-agak gitu, deh.” Komentar seperti ini nggak jarang kita dengar. Meskipun berteman, tapi ada yang mengganjal antara kita dan sobat. Jeleknya adalah suka saling ngomongin di belakang, atau malah jadi backstabber. Makanya, pertemanan seperti ini mesti dihindari!
Teman main: Mereka kawan yang asyik untuk diajak seru-seruan. Tapi, selain bercanda atau jalan bareng, kita belum terlalu dekat dengan mereka. Makanya, kalau lagi sedih atau galau, kita nggak bisa curhat sama mereka.
Sobat: Kita cukup dekat dengan mereka, karena sering menghabiskan waktu bareng. Dari mulai menjalankan hobi, bergaul sampai curhat-curhatan. Bisa dikatakan, kita dan sobat juga sudah mengenal satu dengan lainnya. Saat kita susah, mereka pun ada untuk kita.
BFF: They are the “VIPs” in our life. Sahabat dekat ini adalah orang yang sangat penting dalam hidup kita. Biasanya, jumlahnya hanya 1-2 dan mendapatkannya nggak mudah. Salah satu syarat untuk menjadi BFF adalah jika pertemanannya sudah lama, minimal sekitar 3 tahunan. Selain sangat dekat dan saling berbagi rahasia, dengan BFF kita juga merasa sangat nyaman menjadi diri sendiri.
Rabu, 17 Oktober 2012
cuma nyaman sama dia doang..

simple sih ini tuh cuma botol minuman tapi tuh ko gue rasanya sayang banget yah sama dia dari sekian banyaknya botol minum dirumah gue, gue cuma ngerasa nyaman cuma sama dia doang iya dia doang.
gak tau gue kenapa??? emmmmmmm pertama kali gue beli ini dari hasil uang gue sendiri uang dari pkl pertama gue gue beli si dia dan disitu gue ngerasa bangga aja gitu bisa milikin dia dengan hasil kerja gue sendiri. nahhhhhhh gue selalu bawa dia kemanapun kesekolah, pergi ke acara keluarga bahkan ke rumah makan pun gue masih tetep bawa si dia didalem tas gue terussss pas lagi jalan2 sama temen2 gue juga bawa dia, kadang gue pegang dan kadang gue masukin ke tas pokonyaaaaaaa gue sayang banget sama dia walaupun sekarang dia udah dekil banget. ada niat juga buat ganti yang baru dengan merk yg sama tapi.....nanti deh butuh waktu yg panjang buat ngumpulin uang buat dapetin si dia..pernah sempet panik waktu disekolah tempat minum gue ilangggggggggggggggggg!!!!!!! errrrrrr gue cemberut:(
dan ternyata di umpetin temen gue rese banget:((
andddddddd udah dulu yahhhhhh....
Sabtu, 13 Oktober 2012
Teddy Bear Oleh Rai Inamas Leoni
Aku menatap kosong lembar jawaban matematika diatas mejaku. Semua rumus yang aku pelajari semalam menguap begitu saja. Kulirik jam dinding, tinggal sepuluh menit untuk menyelesaikan lima soal ini. Sementara beberapa siswa sudah selesai mengerjakan soal dan mulai meninggalkan bangku mereka. Kupandangi kertas jawabanku, tak ada yang berubah. Tetap kertas putih yang hanya tertulis lima soal tanpa jawaban. Aku tertunduk lesu lalu perlahan kupejamkan mataku. Berharap semua bisa berubah…
***
Prang!!!! Bunyi vas bunga terdengar nyaring menyentuh lantai . Otak ku segera memperoses apa yang terjadi. Aku tau suara vas berasal dari ruang tamu dan tentu saja Ayah pasti kalah judi sialan itu. Buru-buru aku mengunci pintu kamar rapat-rapat. Kupeluk kamus Bahasa Inggris ku, berharap benda ini dapat melindungiku dari sesuatu. Mengingat sebulan terakhir keadaan rumah tak ubahnya seperti neraka.
“Dasar anak tak tau diri!! Sudah Ayah bilang untuk berhenti sekolah dan mulai mencari pekerjaan. Lihat kalau begini nasi pun tak ada!!” Teriak Ayah dari ruang tamu. Kudengar Ayah mulai membanting sesuatu lalu memaki segala jenis penghuni kebun binatang.
“Dimana kamu Tasya?! Tasya!!!” Ayah mulai kehilangan kendali. Detik berikutnya pintu kamarku yang menjadi sasaran. Ayah mulai menggedor pintuku dan mulai meneriaki segala ancaman jika aku tidak membukakan pintu. Percuma Ayah, aku selalu berlajar dari pengalaman, aku tak mau teman-temanku melihat pipiku memar lagi. Ujarku dalam hati.
Aku menghela nafas lalu berjalan menuju tempat tidurku yang terlihat kontras dengan boneka Teddy Bear milik ku. Teriakan Ayah kujadikan sebagai sebuah nyanyian gratis. Sejenak aku memandangi kamar kecil yang baru setahun kutempati.Beda sekali dengan kamarku yang dulu. Walau bukan dari keluarga kaya raya namun kamarku yang dulu berisi fasilitas lengkap seperti lemari, komputer, meja belajar bahkan TV walaupun 14 inci. Sedangkan kamar ini hanya terdapat ranjang kecil yang sudah kusam dan lemari tua di sudut ruangan.
“Hidup yang kejam!” Tanpa sadar aku bergumam pada diri sendiri. Buru-buru aku menutup mulutku dengan boneka Teddy Bear. Rasanya Ayah mendengar ucapanku tadi.
“Ayah tau kamu ada di dalam!! Buka pintunya!!” Ayah berteriak lagi. Namun teriakannya kali ini lebih mirip orang yang sedang mengigau. Rupanya hari ini Ayah terlalu banyak minum. “Tau begini aku tak akan mengadopsi anak brengsek ini. Dasar anak sialan!” Usai berkata demikian, Ayah mulai bernyanyi lagu-lagu yang tak pernah kudengar lalu beranjak pergi menuju ruang tamu. Sudah menjadi kebiasaan Ayah menyanyikan lagu-lagu yang aneh jika sedang mabuk berat. Dan kalimat terakhir yang diucapkan Ayah, juga karena efek alkohol bukan?
“Karena anak sialan itu istriku kabur dengan lelaki lain, usaha yang kubangun susah payah juga bangkrut karenanya.” Sejenak Ayah tertawa. “Benar-benar anak pembawa sial. Pantas orang tua kandungnya tak mau mengasuhnya…” Ujar Ayah seolah-olah berbicara dengan orang lain.Aku membeku mendengar ucapan Ayah.Sakit rasanya mendengar hal yang selama ini tak ingin aku dengar.
***
Matahari sudah terbenam sekitar beberapa jam yang lalu ketika aku menyusuri sebuah gang kecil. Rumah ku yang baru terletak di ujung gang kecil ini, luas rumah itu hanya setengah dari luas rumahku yang dulu. Aku menendang kerikil yang ada di depanku.Rasanya dunia memusuhi ku akhir-akhir ini. Semua berawal dari usaha Ayah yang ditipu seseorang setahun yang lalu. Ayah mengalami kerugian yang besar hingga tak mampu membayar hutang di bank, yang awalnya digunakan untuk modal usaha. Lalu semua berjalan begitu saja seperti mimpi buruk. Rumah kami disita oleh pihak bank, Ayah membeli rumah kecil dengan uang tabungan yang tersisa, Ibu membuat kue kering dan menjual kepada tetangga sementara Ayah mencari pekerjaan baru.
Aku tak tau apa yang terjadi dengan Ayah selanjutnya. Ayah yang dulu ku kenal ramah dan humoris berubah menjadi Ayah yang suka berjudi dan mabuk. Sering ku dengar Ayah dan Ibu bertengkar karena Ayah meminta uang untuk berjudi hingga berujung pada perceraian mereka. Setelah perceraian itu biaya sekolah hingga makan sehari-hari ditanggung Ibu yang sebulan sekali mengirimi aku uang. Sebenarnya Ibu sudah berkali-kali menyuruhku ikut dengannya, mengingat usaha kue Ibu berkembang pesat apalagi kini Ibu sudah menikah. Namun aku selalu menolak karena tak tega meninggalkan Ayah sendiri. Aku tersenyum pedih mengingat semua hal itu. Ayah? Ibu?
“Mereka bukan orangtua ku!!”Teriak ku parau.Ya, aku bukan anak kandung mereka. Orangtua kandungku tega meninggalkan ku di panti asuhan ketika usia ku menginjak 3 bulan. Kemudian saat aku berumur 7 tahun, Ayah dan Ibu datang untuk mengadopsiku. Sejak saat itu aku menjadi anak mereka. Ayah sering membelikan boneka Teddy Bear untuk ku, mulai dari ukuran terkecil hingga yang paling besar. Sementara Ibu selalu menjadikanku sebagai asisten koki saat beliau membuat kue. Ayah dan Ibu sangat menyayangiku seolah-olah aku ini anak kandungnya. Kami benar-benar keluarga yang bahagia. Tapi itu dulu. Kini semua telah berubah.
“Nak Tasya..” Panggil seseorang dari belakang. Aku menoleh dan mendapati Pak Kino tersengal-sengal seperti dikejar setan. Saat itu aku baru menyadari bahwa aku sudah berada di depan rumahku.
“Ada apa ya Pak Kino?” Tanyaku sopan.Pak Kino adalah pemilik rumah sebelah.
“Anu.. Bapak baru saja..dari rumah sakit..” Ujar Pak Kino terbata-bata sambil mengatur nafas.
“Bapakmu ada di rumah sakit.. Bapakmu dikeroyok penagih hutang..”
Aku diam mendengarkan penjelasan Pak Kino?Penagih hutang?Pasti hutang judi.Bukankah lusa lalu penagih hutang sudah mengambil semua barang-barang di rumah?Radio, televisi, bahkan kursi pun juga diambil.Ragu-ragu aku menatap Pak Kino.
“Rumah sakit mana?”Tanyaku lirih.Tanpa sadar mataku terpaku pada boneka yang bergelantung di tangan Pak Kino.
***
“Dokter pasti salah!! Ayah saya masih hidup!!” Teriakku memecah keheningan.Bibirku bergetar, pandanganku buram.Tangan kananku memegang boneka Teddy Bear berukuran kecil yang sudah terciprat darah.Namun bentuknya sudah tak karuan seperti sudah terinjak.Boneka ini ditemukan Pak Kino saat menyelamatkan Ayahku dari orang-orang suruhan Bandar judi.
“Ayahku masih hidupkan, Pak Kino? Dokter ini pasti bercanda kan?” Tanyaku pada Pak Kino.Pak Kino menatapku nanar, seolah tak mampu berbicara padaku.
“Maafkan saya, saya sudah berusaha semampunya. Namun Ayah anda terlalu banyak kehilangan darah. Terjadi pendarahan hebat di bagian otak beliau akibat terbentur benda tumpul.”Dokter berusaha menenangkanku.
Tak kuhiraukan pandangan orang-orang yang menatapku dengan prihatin.Kaki ku dengan cepat menerobos masuk ruang UGD. Kulihat Ayah terbujur kaku diatas tempat tidur. Matanya terpejam damai walau wajahnya mengalami memar.“Ayah…” Ucapku lirih. “Ayah pasti sedang tidur kan? Besok pagi Ayah akan bangun lalu meminta uang kepadaku untuk judi sialan itu kan?” Tanyaku pelan.Dua suster menarikku untuk menjauh dari Ayah.Dengan kasar aku menepis tangan mereka kemudian berjalan menghampiri Ayah.
“Ayah bangun!!!!” Teriak ku kesetanan.“Ayaaah!!!!”Aku mulai mengguncang-guncang tubuh Ayah.Tanpa sadar tanganku bersentuhan dengan lengan Ayah.Dingin. Aku tak mampu merasakan kehangatan yang dulu sering Ayah berikan. Saat aku berulang tahun, saat aku mendapatkan rangking, atau saat Ayah membelikanku sebuah boneka. Rasa hangat itu telah hilang, telah memudar.Sebuah teriakan menyadarkan ku.Entah sejak kapan Ibu ada disebelahku. Memeluk ku sambil menangis meneriaki nama Ayah. Di samping Ibu, aku melihat Oom Dharma yang tertunduk lesu.Oom Dharma adalah seseorang yang sudah menggantikan posisi Ayah di mata Ibuku.Aku merasa wajahku mulai memanas.
“Ayaaaah… Jangan pergi…” Ujarku pelan lalu menangis sambil memeluk boneka Teddy Bear.
***
Aku membuka mata.Semua sudah berubah, ujarku dalam hati.Sebulan berlalu sejak kematian Ayah. Orang yang mengkeroyok Ayah sudah ditangani pihak berwajib. Aku memutuskan untuk menerima tawaran Ibu untuk tinggal bersamanya.Lagi pula Oom Dharma orang yang baik. Ayah pasti sedang tersenyum menatapku kini, tentu saja dari suatu tempat yang bernama surga. Aku tak peduli Ayah merupakan orang tua angkat ku. Bagiku Ayah ya Ayah. Seseorang yang selalu memberikan kehangatannya melalui boneka-boneka Teddy Bear, boneka favoritku dari kecil.
Tak tau apa yang terjadi, dalam sekejap aku bisa mengingat semua rumus yang semalam aku pelajari. Dengan lincah tanganku menulis rumus, lalu memasukan angka-angka dan mulai menghitung. Aku baru menyelesaikan tiga soal ketika Bu Risna, guru matematika di SMA Bhineka, menyuruh semua siswa untuk mengumpulkan kertas ulangan. Kudengar nada-nada kecewa dari beberapa teman. Ternyata bukan hanya aku yang tidak berhasil menjawab semua soal. Tak sengaja aku menatap ke luar jendela. Langit pagi ini terlihat cerah. Aku tersenyum dan mulai beranjak meninggalkan bangku ku. Ayah, berjanji lah untuk bahagia disana. Bisikku dalam hati lalu berjalan menghampiri teman-temanku.
SELESAI
Jumat, 12 Oktober 2012
Damn! I Love Indonesia Dipesan Maroon 5, Daniel Mananta Gemetar
"Satu bulan lalu dari pihak manajemen Maroon 5 telepon ke Java, Maroon 5 mau pakai baju Damn! I Love Indonesia."
Penampilan Adam Levine, sang vokalis grup band Maroon 5 saat menggelar konser pertamanya di Tennis Indoor Senayan beberapa hari lalu sempat membuat Daniel Mananta gemetar meski ia tidak hadir di konser tersebut.
Pasalnya, saat itu Adam mengenakan kaos Damn! I Love Indonesia, produk yang digagas oleh mantan VJ MTV itu.
"Tahun lalu gue minta promotor Maroon 5, Melanie Soebono kasih baju Damn! I Love Indonesia ke Maroon 5. Mereka tanda tanganin, abis itu difoto juga sambil mengenakanbaju Damn! I Love Indonesia," beber Daniel saat ditemui di peluncuran online shop Damn! I Love Indonesia di Grand Indonesia, hari ini.
Bermula dari situ, ketika grup band asal Amerika Serikat itu kembali menyambangi tanah air mereka meminta untuk disediakan apparel gagasan Daniel.
"Satu bulan lalu dari pihak manajemen Maroon 5 telepon ke Java (Musikindo), anak-anak Maroon 5 mau pakai baju Damn! I Love Indonesia karena mereka suka. Intinya mereka pakai, dan itu sebuah kebanggaan banget. Kita juga sudah kasih beberapa apparel-apparel lain ke mereka. Kebetulan guejuga penggemar berat mereka," ungkap Daniel penuh rasa bangga.
Sebenarnya tak hanya grup Maroon 5 yang mengenakan baju Damn! I Love Indonesia saat konser. Artis mancanegara seperti Jay Park, The Click Five, maupun Backstreet Boys pernah melakukan hal serupa saat datang ke Indonesia dalam rangka lawatan konser mereka.
"Saya yakin bisa menjadi (setenar) kaos I Love NY," pungkasnya.
Sumber: beritasatu.com
Penampilan Adam Levine, sang vokalis grup band Maroon 5 saat menggelar konser pertamanya di Tennis Indoor Senayan beberapa hari lalu sempat membuat Daniel Mananta gemetar meski ia tidak hadir di konser tersebut.
Pasalnya, saat itu Adam mengenakan kaos Damn! I Love Indonesia, produk yang digagas oleh mantan VJ MTV itu.
"Tahun lalu gue minta promotor Maroon 5, Melanie Soebono kasih baju Damn! I Love Indonesia ke Maroon 5. Mereka tanda tanganin, abis itu difoto juga sambil mengenakanbaju Damn! I Love Indonesia," beber Daniel saat ditemui di peluncuran online shop Damn! I Love Indonesia di Grand Indonesia, hari ini.
Bermula dari situ, ketika grup band asal Amerika Serikat itu kembali menyambangi tanah air mereka meminta untuk disediakan apparel gagasan Daniel.
"Satu bulan lalu dari pihak manajemen Maroon 5 telepon ke Java (Musikindo), anak-anak Maroon 5 mau pakai baju Damn! I Love Indonesia karena mereka suka. Intinya mereka pakai, dan itu sebuah kebanggaan banget. Kita juga sudah kasih beberapa apparel-apparel lain ke mereka. Kebetulan guejuga penggemar berat mereka," ungkap Daniel penuh rasa bangga.
Sebenarnya tak hanya grup Maroon 5 yang mengenakan baju Damn! I Love Indonesia saat konser. Artis mancanegara seperti Jay Park, The Click Five, maupun Backstreet Boys pernah melakukan hal serupa saat datang ke Indonesia dalam rangka lawatan konser mereka.
"Saya yakin bisa menjadi (setenar) kaos I Love NY," pungkasnya.
Sumber: beritasatu.com
Langganan:
Postingan (Atom)