Senin, 24 September 2012

Orang Yang Sedang Jatuh Cinta

Beberapa hari ini gue terperangkap di tengah-tengah orang yang sedang jatuh cinta.
Orang yang sedang jatuh cinta, akan berubah menjadi tidak peka. Tak perduli dengan apa yang terjadi disekitarnya, dan hanya fokus terhadap apa yang sedang digilainya.
Empat hari yang lalu, gue dan beberapa teman pergi ke Bali. Anggap aja nama mereka, Temansatu, dan Temandua. Iya, gue lagi males milih nama.
Hari pertama di Bali, gue, Temansatu, dan Temandua dijemput oleh Temantiga, Temanempat, dan Temanlima. Jadilah kita berenam liburan bareng di Bali.
Semua berjalan baik-baik aja, sampai akhirnya kami sadar, Temandua sedang jatuh cinta..
#nowplaying Nothing But Love Mr. Big
Sepanjang hari, Temandua tak pernah lepas dari telfon genggamnya. Ombak pantai dan matahari Bali sama sekali tidak merubah fokusnya. Gue dan teman-teman lain penasaran.
‘Lo nggak ikut berenang? ajak gue.
Sambil tetap memandang layar handphone, Temandua menjawab dingin, enggak, elo aja deh.
Orang yang sedang jatuh cinta, akan berubah menjadi tidak peka. Mungkin tak bermaksud menarik diri, hanya tak ingin fokusnya terbagi.
Ketika malam hari, Temandua menghilang. Gue dan teman-teman berpencar mencari. Nggak berapa lama, kita menemukan Temandua sedang asyik telponan di samping kolam hotel.
Wajahnya sumringah. Sesekali dia tersenyum kecil. 4 jam kemudian, setelah selesai telponan, dia balik ke kamar. Iya, 4 jam.
Orang yang sedang jatuh cinta, akan berubah menjadi tidak peka. Waktu jadi tak terasa, dan rindu membuat jenuh sirna.
Di kamar, Temandua bercerita tentang wanita yang sedang dia sukai. Hmmm, pantes aja. Dari cara dia bercerita, gue udah bisa ngerasain betapa dia ingin cepet-cepet pulang ke Jakarta. Iming-iming liburan seru di Bali ternyata nggak sebanding dengan rindu yang udah nggak keitung lagi.
Jatuh cinta itu gelisah.
Orang yang sedang jatuh cinta hanya ingin menghabiskan waktu dengan orang yang dicinta.
Orang yang sedang jatuh cinta hanya ingin berada di samping orang yang dicinta.
Dari sini gue belajar.. Orang yang sedang jatuh cinta, bukan berubah menjadi tidak peka. Mereka, dan juga kita, hanya terjebak di dalam rasa :)
aaaaaaaaaaah finaly akhirnya selsai juga tugas nya capek bgt yang seharusnya tugas kelompok tapi gue kerjain sendirian semuanya tapi ga papah deh gue enjoy bgt dengan apa yang gue lakuin sekarang!

Jumat, 14 September 2012

APA YANG BISA AKU LAKUKAN UNTUK NEGERIKU

Menghadapi carut-marutnya Indonesia, banyak teori-teori dari berbagai lapisan masyarakat, mulai dari teori-teori para petinggi sampai rakyat biasa. Dimana-mana rakyat menyalahkan pemerintah yang korup, keputusan-keputusan yang tidak membuat Indonesia lebih baik, serta ketidakmampuan pemerintah untuk melenyapkan segala kesulitan yang mereka alami. Ada juga pihak lain yang menyalahkan moral dan sikap warga negara Indonesia sendiri. Terakhir yang saya dengar ada yang menyalahkan gaya hidup orang Indonesia yang tidak disiplin termasuk para penjaga keamanan dan yang membuat peraturan. Mungkin saja anda sudah mendengar teori yang lain. Jika dengan menyalahkan orang lain seperti itu Indonesia bisa bangkit tentu seharusnya Indonesia sudah tidak terpuruk begini.

Saya sering sekali mendengar obrolan semacam ini di kalangan politikus warung kopi. Pemerintah korup dan tidak peduli rakyat selalu jadi bahan diskusi yang tak ada habis-habisnya. Apalagi tentang praktek-praktek KKN di sekitar kami, tentang sogokan jadi PNS atau hubungan saudara yang sangat menguntungkan. Ada juga topik lain yang sempat jadi headline news, yaitu tentang kebudayaan Indonesia yang banyak dipatenkan pihak asing. Obrolan mereka sudah nyaris menyamai omongan para pengamat budaya.

Beberapa waktu setelah itu saya melihat mereka lagi di sebuah distro. Dengan langkah super pede mereka memamerkan baju bermerk import. Bagus dan mahal memang, cukup untuk mendongkrak prestise di kalangan orang Indonesia yang memuja merk luar negeri. Tanpa mereka sadar bahwa produksi dalam negeri digerogoti dan dijajah akibat ulah mereka sendiri.

Di lingkungan yang lebih luas keadaannya tak jauh beda. Demo para mahasiswa dalam rangka menentang pihak-pihak yang sudah mencuri kebudayaan Indonesia patut diancungi jempol. Keberanian mereka pastilah sudah menyentuh orang-orang berwenang. Di sisi lain, banyak dari kita mungkin sudah tidak tertarik lagi dengan kesenian daerah. Kita lebih sering mengundang seksi dancer ketimbang tarian daerah sendiri. Belum lagi lidah orang Indonesia yang sekarang semakin menyamai lidah bule. Kebanyakan lebih doyan menyantap Pizza, Humburger, Spaghetti, dan sejenisnya. Makanan semacam gudeg, rendang, semur, dan lainnya mungkin sudah ketinggalan jaman. Jadi seandainya kita tidak peduli pada kekayaan kita sendiri lalu ada yang memungutnya apakah si pemungut harus salah seratus persen? Seharunya kita sadar.

Sesungguhnya kita bisa menjaga Indonesia dengan sederhana. Dengan belajar mencintai Indonesia dan belajar lebih menghargai produk Indonesia akan sangat bermakna. Apalagi jika kita belajar untuk tidak saling menyalahkan namun selalu berusaha memperbaiki diri sendiri. Sedikit perbuatan sesungguhnya jauh lebih berharga dari segudang omongan. Mungkin kalimat ”Apa yang bisa Aku lakukan untuk negeriku” akan lebih terasa manfaatnya dibandingkan kalimat ”Mereka harus bisa melakukan sesuatu untuk negeri ini.”
Mungkin semua yang kutulis bukanlah hal berharga, bahkan tak bermakna. Tapi setidaknya dengan kutulis mereka, mereka menjadi karya terbaik yang aku tulis. Dan ketika banyak tulisan lain yang lebih baik dari tulisanku, aku mungkin hanya bisa menuliskan hal yang lebih baik dari tulisanku sebelumnya.

Mereka menghiburku, membawaku ke dunia mimpi dimana hanya ada aku dan mereka. Kami punya dunia itu sendiri, beralaskan kata dan berlangitkan mimpi.

Meski tulisanku bukanlah tulisan terbaik yang pernah ada, aku tetap akan menuliskan mereka dengan cara terbaik yang aku bisa. Seperti caraku menggenggam bintang, meski yang kugenggam masih sebatas awan.

Lalu sepasang sayap adalah punya mereka. Aku hanya bagian dari yang mereka punya. Seperti dunia itu, yang aku masuki ketika sebaris kalimat aku tulis. Dunia tanpa aturan tempat tinggal si cerita.

Cerita membawaku pada kata, kata membawaku pada makna, lalu makna menghilang dan aku tidak lagi ingat siapakah makna yang merasuki ceritaku. Makna tidak menuju pikiran, ia menuju hati dimana semua logika tak lagi kembali pada kata tapi menuju rasa. Rasa itu menguasai tubuhku dan terciptalah alunan kata yang tak kumengerti.

Hati dan cerita bersahabat denganku. memberi semua yang aku tulis saat ini. Makna tak pernah kutemui. Ia hanya mau berbicara padaku melalui hati. Ia bersembunyi jauh lebih dalam sambil menertawakan kebodohanku. Dan yang lebih bodoh, hati tak pernah kenal logika. Jadi bagaimana otak menggambarkannya?

Mereka semua liar, cerita, hati, dan makna. Mereka hanya datang ketika mau saja. Uang, terkenal pujian, ketika aku memikirkan itu mereka selalu menghindariku. Mungkin mereka benci, atau aku yang terbebani.

Kamis, 13 September 2012

Tipe-tipe Jomblo Berdasarkan Teori Ekonomi

Beberapa waktu lalu, karena lagi gak ada kerjaan dan kebanyakan bengong, gue nge-twit tentang tipe-tipe jomblo yang dikelompokan berdasarkan teori ekonomi tentang penyebab-penyebab unemployment. Belakangan ini gue baru nemu kembali twit gue yang lama tersebut, dan kayaknya seru kalau versi expanded-nya, yang udah gue tambah-tambahin, gue share di blog ini.
Ide untuk menulis tipe-tipe jomblo ini gue dapetin di sela-sela lagi baca buku ekonomi makro. Selama ini gue pikir teori tentang cinta hanya bisa disambung-sambungkan dengan teori ekonomi mikro (insentif, penawaran, permintaan), ternyata dengan ekonomi makro seperti unemployment juga bisa masuk.
Nah, monggo di baca, tipe-tipe jomblo berdasarkan teori ekonomi:

Jomblo Struktural

Jomblo struktural adalah jomblo karena kualitas kita (penawaran) dgn kemauan lawan jenis (permintaan) terhadap kita tidak seimbang. Jadi, Jomblo Struktural terjadi krn apa yang kita punya (fisik dan kepribadian) tidak sesuai dgn apa yg lawan jenis inginkan.
Hal ini bisa kita lihat kalau kita cowok yg jelek dan cuek. Sementara cewek yg kita incer mau co ganteng dan perhatian. Gak ktemu penawaran dgn permintaan. Jomblo deh.
Jomblo struktural juga bisa teradap dalam kasus cewek. Misalnya, ceweknya kulitnya item, sementara cowok-cowok yang dia taksir maunya yang putih dan behelan. Terjadi kembali mismatch antara penawaran dengan permintaan. Jomblo deh.
Jomblo struktural bisa dihindari dengan cara seperti ini: 1) meningkatkan kualitas kita, supaya bisa memenuhi permintaan lawan jenis, atau 2) mencari pasar lain. Berarti kita harus mencari cewek atau cowok yang mau dengan kualitas-kualitas (penawaran) kita. Dalam kata lain: menurunkan standar.

Jomblo Cyclical

Jomblo cyclical terjadi karena keinginan orang untuk pacaran menurun di masa-masa tertentu, jadinya banyak yang jomblo. Misalnya: menjelang UAN. Banyak orang jomblo berkepanjangan sewaktu menjelang UAN atau SPMB, karena fokus cewek dan cowok masih belajar. Tidak banyak bahkan yang sudah pacaran pun memutuskan pacarnya karena mereka ingin fokus belajar. Ini bisa menyebabkan kejombloan.
Tapi jangan khawatir, sesuai dgn namanya, cyclical, berarti ada siklusnya. Jadi, akan ada masanya orang-orang jadi banyak yg punya pacar lagi. Misalnya, masa liburan. Di masa ini, org pegen punya pacar, biar bisa liburan bareng. Atau banyak orang yang cinlok di tempat berlibur. Cara terbebas dari Jomblo Cyclical adalah dengan menunggu masa-masa orang ogah pacaran lewat. Setahu saya, tidak ada jalan lain selain ini.

Jomblo Friksional

Jomblo Friksional adalah kejombloan yang disebabkan oleh mereka yang baru putus dan ingin waktu sendiri dulu sebelum pacaran lagi. Jadi, Jomblo Friksional sifatnya sukarela mereka memilih ngejomblo dulu, setelah putus dan sebelom pacaran lagi.
Jomblo friksional biasanya terjadi pada cewek yang “gak mau pacaran dulu” karena abis disakitin sama pacarnya dulu, dan blm mau pacaran lagi. Caranya terbebas dari Jomblo Friksional? Move on, boys and girls. Find a better person.
Jadi, jomblo tipe apakah kamu?

Aksi Nge-TUC Raditya Dika - TUC Teman Ujian


Video kedua Raditya Dika buat ikutan Aksi NgeTUC nih! Sinopsis: Raditya Dika lagi ujian di kelas, selalu diawasi pengawas. Tapi bukan Raditya Dika namanya kalo gak punya ide jenius, kaya gimana sih idenya yang gokil itu? Liat sendiri aja guys.

Raditya Dika - Short Movie

AULION - Like A G6 by Far east Mvmnt

Flash Mob at the Ohio Union 5/3/2010 - The Ohio State University

Kevin Aprillio Buka Usaha Toko Distro - CumiCumi.com

Impian Seorang Kevin Aprilio Vierra

Kevin 'Viera' Aprilio, (Foto: Ist.)JAKARTA- Musisi muda yang juga pentolan band Viera, Kevin Aprillio, ternyata punya impian besar dalam hidupnya. Impiannya adalah dia ingin punya label rekaman sendiri, alasannya sederhana, katanya, itu bisa mempermudah grup bandnya berkarya dengan maksimal.

“Mimpi aku yang belum kesampaian itu adalah aku pengen sekali punya label rekaman,” terang Kevin Aprilio saat ditemui di acara Dahsyat, RCTI, di kawasan Kebon Jeruk, Jakarta Barat, Jumat (15/1/2011).

Walau itu baru sebatas cita-cita, putra pasangan Addie MS dan Memes, ini, merasa bersyukur pada Sang Khalik dengan pencapaian karir di musik bersama teman-temannya saat ini yang menurutnya luar biasa.

Alhamdulillah, banyak mimpi aku yang sudah terwujud. Seperti grup band Vierra sudah menjadi sekarang ini,” tuturnya

KARMA!

1 tahun menurutku waktu yang lama untuk sepasang kekasih yang menjalin hubungan, apalagi untuk kami remaja yang masih menginjak di kelas 2 sma, sekarang kami sudah beranjak ke kelas 3. Begitu banyak cerita yang aku lalui bersamanya, bersama wanita cantik nan baik hatinya. Sebut saja wanita cantik itu Thella, banyak rintangan yang aku lalui untuk mendapatkannya. Pria mana yang tidak ingin memilikinya sebagai kekasih.
bel istirahat berbunyi .. teeet .. teeet                         
“ ke kantin yuk za “ . ajak Rafa sahabatku
“ ah .. lagi males untuk melakukan aktifitas nih aku “
“ hhahhaha .. tumben banget sih za. Biasanya kamu selalu lapar haus dan lapar” canda Rafa
suasana hening sejenak. Didalam benakku ada sesuatu yang ingin aku ceritakan kepada Rafa, Karena dia sahabatku. Aku sudah tidak risih lagi menceritakan semua seluk beluk yang ada dikehidupan aku. Begitupun dengan dia. Selain kami bersahabat, kami juga tinggal di 1 komplek.
  Singkat cerita akhirnya aku memebranikan diri untuk mengatakan sesuatau yang ada di benakku tadi.
aku menepuk pundak Rafa yang sedang asyik bbm an.
“ Raf.. mau cerita nih “
“adduh !! ahh ngagetin aja sih za “ ucap Rafa
“ jadi gini, hemmmm.. sebenernya sih aku bersyukur banget ya Raf memiliki kekasih secantik dan sebaik Thella, tapi aku ngerasa bosan pacaran sama dia, kalau boleh jujur aku lagi deket sama Dina kelas 2 IPA Raf “
Tiba-tiba Rafa tersentak kaget !!
hhaaah ?? lo deket sama Dina ?? dengan wajah tak percaya
kenapa emang Raf ??? ujarku
ee,, e,, eeengga Za, yaudah yah aku balik dulu kekelas” ucapnya terburu-buru
setelah Rafa kembali kekelas ternyata bel istirahat sudah berakhir, pak Hisyam datang untuk masuk pelajaran agama, dikarenakan guru kami pak Syarif tidak masuk karena sakit. Jadi digantikan oleh pak Hisyam.
  jam sudah menentukan pukul 12.10 wib. Waktunya pulang sekolah
Aku memang berbeda kelas dengan Thella, biasanya kami selalu pulang sekolah bersama, dan akupun mengantarnya sampai ke depan rumahnya, tetapi untuk saat ini aku tidak bisa, karena aku sudah janji ingin mengantar Dina ke toko buku.
sementara itu, ketika aku sedang ingin melajukan motor keluar dari parkiran, Thella memamnggilku.
“ Reza .. za .. tunggu “
Ya tuhan !! harus bagaimana ini. Dengan terpaksa aku memberhentikan lajuan motorku
“ ee,, eh ia Thella kenapa ?? “
“ kita gak pulang bareng za ?”
“ maaf thell aku buru-buru, besok aja ya “
Pada saat itu aku langsung meninggalkan Thella sendirian, dan sepertinya dia ingin mengucapkan sesuatu, tetapi aku langsung bergegas, ya tuhan maafkanlah aku, thell maafin semua kejahatan yang sudah aku perbuat terhadapmu sejujurnya aku masih menyayangimu, tapi akau tidak tahu kenapa, dengan kehadiran Dina dihidupku, rasanya aku ingin meninggalkanmu.
  Sementara itu terlihat dari kejauhan Dina yang sudah menungguku di pintu gerbang sekolah, dia langsung naik ke motorku, selama perjalanan kami berdua diam saja, dan sesampaiinya di took buku dina mulai berbicara.
“ za .. gimana dengan hubungan backstreet kita dari thella ?? pokoknya aku gak ingin selama kita berhubugan kau masih ada status dengan thella “.
aku hanya diam saja dan langsung kekasir setelah Dina memilih buku yang ia ingin beli, aku langsung mengantar Dina pulang kerumahnya.
Keesokan harinya, aku menghampiri Thella dikantin yang sedang asyik bercanda dengan teman-temannya.
“ hai guys ,,, boleh pinjem Thella nya gak niih “ .
“ ya ampuun Rezaaaa .. ya boleh dong “ Ucap mereka dengan wajah tersenyum.
Aku memeberanikan diri untuk berbicara, meskipun berat tapi aku harus mengatakannya.
“Thella .. sebelumnya aku minta maaf sama kamu, aku gak bisa lanjutin hubungan kita ini”.
“ haaah ?? apa za yang kamu omongin barusan, aku bener-benar masih sayang sama kamu “. Dengan wajah yang sedih.
“ tidak thell, aku serius, kamu gak punya salah sama aku, tapi memang ini keputusan aku, maaf thell “.      Selanjutnya, aku dengan perasaan yang tidak punya hati sama sekali meninggalkan Thella begitu saja yang mulai menitiskan air mata dari wajah cantiknya itu.
1 minggu telah berlalu ….
Dikantin aku ngobrol dengan Rafa sambil menghabiskan makanan dan minuman yang kami pesan. Tiba-tiba Rafa angkat bicara.
“Reza .. Thella pindah yah ?? pindah kemana za “.
“kamu kata siapa sih raf “??. Aku yang mulai galau dengan ucapan Rafa.
“ yeeh memang ia ko Reza. Gimana sih kamu pacarnya juga “.
“ aku sudah putus raf” .
“ haaaaaah !! PUTUS ??? “ Rafa tersentak kaget.
sementara itu, selagi kami berdua berbincang-bincang . tiba-tiba Ilham teman sekelasku datang menghampiriku dan langsung menonjokku dengan ganasnya.BUUUGG !!!
“ puas lo jadiin pacar gue selingkuhan lo dari Thella ?? hhaaah !! jawab ..” ujar Ilham dengan nada emosi.
Ya tuhaaaaan tolong aku, ternyata Dina adalah kekasih dari temanku sendiri yaitu Ilham, apa ini semua jawaban dari kekagetannya sahabatku Rafa saat ia mengetahui kalau aku sedang dekat dengan Dina, aku bertanya-tanya dalam benakku, apa yang harus aku katakana kepada ilham. Aku tetap bersabar karena ini semua kesalahanku seorang.
“ sumpah ya elo tuh gak tau diri, punya pacar secantik dan sebaik Thella lo sia-siain ?? hhah .. shit lo “.
geram ilham.
“ tapi demi tuhan ham, aku gak tahu kalau Dina pacar kamu”. Ucapku lemah
prrraaak  !!!! suara hentakan tangan Ilham dimeja kantin membuat seisi kantin tertuju kepadaku dan Rafa, sementara itu ilham meninggalkan kami dengan tampanh sangarnya.
Dirumahku …….
Hari minggu memang sudah jadwal Ilham main kerumahku, entah itu main PS atau kami mengerjakan tugas bersama, semenjak kejadian itu semua, aku hanyut dalam kesendirianku dan menjadi lelaki paling pendiam dan selalu menyendiri, untuk makanpun aku tidak nafsu, karena inilah kesalahan terbesarku yang pernah aku lakui selama didunia ini, akulah pria paling bodoh.
“ Reza maafin aku ya, karena sebelumnya kau memang mengetahui kalau Dina itu kekasih Ilham, tapi aku takut kamu kecewa atau apalah “. Papar Rafa
“yasudah Raf .. ini semua memang salah aku .. tidak ada yang benar maupun salah “ ucapku tenang.

 Malam harinya …
Ya tuhan … inikah yang dinamakan karma !!?? Betapa bodohnya aku, yang menyia-nyiakan gadis cantik yang tulus mencintai aku apa adanya, entah dimana dirimu kasih saat ini berada, di keheningan malam  aku meratapi semua ini, sulit dilupakan masa-masa indah yang aku lalui bersamamu, dimana senyumannya yang selalu ia beri kepadaku.
Sesampainya disekolah, Ilham langsung menghampiriku.
“ Reza .. gak terasa ya besok sekolah kita sudah ada pensi lagi, kamu mau nampilin apa besok ??”.
“ pokonya liat aja raf besok, pastinya ada SESUATU “ . hhhahhahaha
“syahrini gilaaaaa “ ucap Rafa sambil tertawa.

Saatnya pensi, dan inilah penampilanku.
Aku menaiki panggung, sementara itu teman-temanku sudah menganga melihatku karena tidak sabar ingin melihat penampilan aku, karena aku dikenal satu sekolah ini karena suaraku yang menurut teman-temanku bagus.
“ Iya langsung saja aku persembahin lagu ini untuk Thella wanita yang sangat baik padaku dan untuk teman-teman semua, aku membawakan lagu dari pasto jujur aku tak sanggup” .

 Oooh .. ini kisah sedihku, ku meninggalkan dia.
betapa bodohnya aaaku.
dan kini aku menyesal melepas keindahan dan itu kamu,
tuuuhaaan tolonglah aku
 kembalikan dia, kedalam pelukku, karena ku tak bisa
mengganti dirinya.. kuakui jujur aku tak sanggup, jujur aku tak bisaaaaaa …

Terimakasih …….
prok prok prok prok !! ,, serempak seluruh teman-teman memberikan tepuk tangan yang meriah.
      Aku dapat info dari temannya Thella, bahwa Thella saat ini tinggal di Australia bersama kakaknya yang kuliah disana, akupun memerima semua kenyataan ini dan kali ini aku sadar, tidak seharusnya aku mencampakkan dan menyianyiakan apa yang sudah aku kita miliki.
maafkan aku Thella … meskipun kamu jauh disana tapi kamu tetap dekat dihati aku

Berita dan Info Terbaru: Maroon 5 Hebohkan Jakarta Lagi

Berita dan Info Terbaru: Maroon 5 Hebohkan Jakarta Lagi: Setelah sukses menggelar konser pertamanya di Istora Senayan Jakarta pada 27 April 2012 lalu, nampaknya band Maroon 5 ketagihan. Lewat a...

Gangam style, fenomena baru Kpop

Gangnam Style kini sedang menjadi buah bibir di seluruh Dunia, berawal dari video klip Park Jae Sang atau lebih banyak dikenal dengan sebutan PSY yang diupload ke Youtube dan telah ditonton sebanyak 105,546,849 kali yang telah rilis semenjak tanggal 15 Juli 2012. Gangnam Style, psy, Park Jae Sang Gangnam Style semakin dikenal dunia setelah video tersebut diunggah di YouTube pada minggu ketiga Juli 2012. Apalagi, banyak selebriti dunia yang me-mention gangnam Style ini via twitter. Beberapa di antaranya adalah Robbie Williams, rapper AS T-Pain, dan penyanyi Inggris Josh Groban. Pada pertengahan Agustus, ada rumor yang beredar bahwa Justin Bieber juga tertarik untuk menggaet PSY sebagai partnernya. Bahkan kabarnya, kerjasama antara kedua penyanyi ini sedang berlangsung. Jika diperhatikan, ada satu gerakan tari yang paling menarik yang diperkenalkan PSY. Gerakan tersebut dikenal sebagai tarian kuda-kuda, yang menggabungkan unsur-unsur gaya menari shuffle dan gerakan tangan menyerupai gerakan pengendara kuda. Sebelumnya, tarian ini sudah diperkenalkan melalui kelompok musik girband K-Pop lainnya, yakni Girl's Day, pada 2010.

PSY - GANGNAM STYLE (강남스타일) M/V

[HD] [FUNNY] PSY - "HONGDAE STYLE" (GANGNAM STYLE) MV PARODY BY TREND FA...

PSY - GANGNAM STYLE (강남스타일) M/V

YOU ARE MY BEST FRIEND


i have a lot of friends
but i don't know which one i can trust
all of them help me change my life
and what am i believing for

i always ask myself whom i should treat my best friend
i thought it was a lost friend that i already met
coz she's the one i'm always thinking
she's never been out on my mind

but not till i met you
coz you gave me reason to stop believing
that i will find a friend
whom i waited for so long

i think i already found the person
who will change the life i'm living now
she's not perfect and good as i expected
but she can teach me to live in reality

i don't know you that much
but i can prove that you're the one i'm looking for
you're the only one who make me feel this way
a feeling that surely, no one can ever give me

i'm not good in words
and i don't know how to show what i really feel
but hoping you to know how much you mean to me
even without such words

i know we just met, but i feel so close to you
i know we just met, but i hope you're in my life to stay
coz the more i get to know you, i more i know myself
and whenever i see you, i makes me want to smile

i thought my world was coming to an end
i had forgotten how to smile, how to laugh, and how to be me
but then, i found you and taught me to bring back happiness
so don't forget me, for i will not forget you till the end

now, i'm happy with this friend i've found
i have no doubt about how i feel
many problems will continue to come
but i'm not afraid coz you're there

you're the one i need to trust
coz i know you're someone who will never let me down
and someone who will guard my deepest secret
and no one can ever replace you

when i find i can't make it,
you give me your wisdom and help me to try
you give me strength to do things i'm afraid of
just to overcome my fears

when i was silent, you spoke
when i was alone, you always come with me and comfort me
when i need someone to talk to, you're always been there
i've never been as like this with anyone as i have been with you

who else do i need to find
if the person i was searching is already at my side
so, when someone ask me who you are, a can say that,
"YOU'RE MY BEST FRIEND", coz you're simply the best







Wonderfull Chill Out Music Love Session on Amazing HD Video

A SHORT LOVE STORY






One day god sends a chair to Two Lovers...
The specialty of that chair was that the person sitting on
it if says TRUTH, Then the GREEN light would blink 'n if person sitting on it says LIE, Then RED light would blink....

Boy sat on the chair..

GIRL-Do you LOVE me?

BOY-Yes I love you... (RED light blinks..)

GIRL-Don't worry there will be mistake done by god..!!
I'll ask you again 'n then we’ll see what will happen...

GIRL-Do You LOVE me?

BOY-yes I love you... (GREEN light blinks)

Do you know what happened when First Time the Girl asked?
The boy actually was NOT Interested in Love with her... he LIED..
But when girl showed her trust on the boy...
That boy truly started LOVING the girl....
That's LOVE...!

Moral of the Story-
"One Sided Love Can Win Too... If You Show Your
Trust.. ! :))

It was yours....

Girl: I’m having my operation now I love you.
The girl lay’s on operation bed. Boy stands there with watery eyes without saying I love you too.
.
Girl finishes heart transplant, the boy is gone.
.
Girl: Nurse where is he?

.

Nurse says: They didn’t tell you whose heart they gave you, did they?
Nurse hands the girl a note
.
Girls reads note
.
”I told you it was yours

Rabu, 12 September 2012

Girl saw her bf with another girl holding hands..

Girl saw her bf with another girl holding hands...
Girl massaged him..!
Girl : Where r u?
Boy : I m at my home..!
Girl : Ohh ok well I see your twin same like you with someone else. Hahaha! And he is behind me.
Boy : looked at her and feel ashamed.....
Boy massgaed her...!
Boy : Its me I m so sorry I swear I would never do that again! Your trust make me proud to me I deserve it and have to be yours only...!
Girl : Thats ok but I am stupid to love you again but not an idiot enough to trust you again...!
Boy : Well I will win it again. Boy left the other girl.
So a relationship is all dependent on the trust if someone trusts you blindly never ever prove them a blind.....

Selasa, 11 September 2012

Sympathy for Lady Vengeance



Director : Park Chan Wook
Screenplay : Park Chan Wook, Jeong Seo Gyeong
Cast:
Lee Young Ae – Lee Gum Ja
Choi Min Sik – Mr. Baek
Kim Si Hoo – Geun Shik
Kim Byeong Ok – Preacher
Nam Il Woo – Detectice Choi
Oh Dal Su – Mr. Chang
Lee Seung Sin – Park Yi Jeong
Kwon Yea Young - Jenny

Sympathy for Lady Vengeance melengkapi trilogy revenge yang dipersembahkan oleh Park Chan Wook. Film yang berjudul asli Chinjeolhan geumjassi ini berhasil memberikan semacam orgasme bagi penonton yang menunggu dua tahun sejak Oldboy, film keduanya rilis tahun 2003. Kepuasan yang didapat dari menonton film adalah penyempurnaan aksi sadis dan mencekam Chan Wook yang kali ini memanfaatkan perempuan sebagai tokoh yang membalaskan dendam tanpa ampun. Kepuasan dengan detail cerita, akting, teknis yang saling mendukung dengan hasil sangat maksimal. Meskipun berdiri sendiri, film ini tentu mendapatkan perbandingan dengan kedua film sebelumnya. Sympathy for Lady Vengeance berhasil mendekati “kegilaan” Oldboy meskipun secara penyutradaraan dan naskah, Oldboy terasa lebih sempurna dan maksimal. 

Jika Sympathy for Mr. Vengeance dan Oldboy lebih terfokus pada 3 karakter utamanya. Maka dalam film ini kita diperkenalkan pada belasan karakter yang membantu usaha balas dendam yang akan dilakukan oleh Lee Gum Ja (yang dimainkan dengan sempurna oleh Lee Young Ae). Lee Gum Ja ditampilkan dengan berbagai macam karakter dan pribadi mewakili masa dimana dia harus menghadapi hidupnya yang pahit. Kita akan melihat Lee Gum Ja yang bak seorang malaikat ketika menghabiskan masa-masa hidupnya di penjara. Kita juga akan melihat sosok Lee Gum Ja yang dingin, tanpa hati, penuh kebencian ketika dia mulai merencanakan untuk membalaskan dendam saat keluar dari penjara. Kita juga akan melihat bagaimana Lee Gum Ja yang sangat lugu, hamil luar nikah dan  tidak bisa berbuat apa-apa saat harus menerima hukuman atas tuduhan pembunuhan anak-anak. Terakhir kita juga akan melihat Lee Gum Ja berusaha menjadi ibu dengan limpahan kasih sayang untuk anaknya yang selama ini diadopsi dan tinggal di Australia. Karakter-karakter Lee Gum Ja yang beragam inilah yang menjadi pengait dari kisah kisah bagaimana awal hidupnya hingga harus terjebak 13 tahun dalam penjara dan menyusun rencana dengan sempurna untuk membalaskan dendam pada Mr. Baek (Choi Min Sik).

Lee Gum Ja menghabiskan waktu 13 tahun atas tuduhan kejahatan yang tidak pernah dilakukannya. Sangat berat baginya menghabiskan masa 13 tahun di lapas perempuan yang penuh berbagai karakter kriminal wanita dengan berbagai macam tindak tanduk yang unik dan aneh. Lee Gum Ja menjadikan dirinya sosok yang begitu dicintai semua orang. Bahkan untuk menolong salah satu rekan sel-nya, Gum Ja dengan "tangan dingin" membunuh salah satu narapidana yang memang menjadi momok bagi lainnya. Hari dimana dia dibebaskan menjadi hari yang membuatnya berikrar akan membalaskan masa-masa kelam hidupnya dipenjara. Hari yang menjadi pembuka baginya untuk kembali mengumpulkan puing-puing berserakan dari masa lalunya untuk diperbaiki. Dengan cara seperti apa? Dengan cara yang tidak biasa. Sangat tidak biasa.

Perlahan Lee Gum Ja berhasil memasuki kehidupan Mr. Baek, seorang guru TK yang sebenarnya melakukan tindak pembunuhan belasan anak usia belia yang dituduhkan padanya.
Bagaimana sempurnanya aksi balas dendam ini? Gum Ja mengumpulkan bukti-bukti bahwa dirinya tidak bersalah. Mendatangi semua orang tua dari anak-anak yang telah dibunuh dan menyakinkan semua orang tua tersebut untuk memberikan pembalasan yang setimpal pada Mr. Baek. Tidak mudah memang untuk mengumpulkan para orang tua yang masih terpukul atas terbunuhnya anak mereka, meskipun telah 13 tahun berlalu. Tentu banyak penolakan-penolakan dari mereka, namun didasari atas amarah yang masih mereka miliki, Gum Ja berhasil menyakinkan para orang tua ini. Dengan bantuan teman-temannya selama berada di penjara, Gum Ja mulai menjalankan aksi balas dendam ini. Bukan hanya dendamnya, tetapi dengam belasan orang tua yang telah kehilangan “malaikat” kecil mereka.

Sementara memulai aksi balas dendamnya, Gum Ja mencoba untuk kembali mencari “rasa” untuk menjadi seorang ibu. Gum yang pada masa lalunya pernah melahirkan seorang anak perempuan yang kala itu tidak bisa dirawatnya karena masih sekolah. Jenny (Kwon Yea Young) diadopsi oleh sebuah keluarga di Australia. Gum Ja mendatangi keluarga angkat Jenny dan melakukan pendekatan pada mereka untuk bisa kembali dekat dengan Jenny dan membawanya pulang ke Korea. Bersama Jenny, Gum Ja menjadi pribadi yang lain, seorang ibu yang ternyata belum begitu siap menghadapi segala macam pertanyaan tentang ketidakhadirannya selama 13 tahun lebih usia Jenny. Kedekatannya dengan Jenny seperti memberi sebuah oase bagi hidupnya yang penuh dendam dan amarah.  

Dengan menggunakan alur maju mundur, naskah buatan Park Chan Wook dan Jeong Seo Gyeong perlahan membuka satu persatu jalan hidup pahit Lee Gum Ja. Dengan rapi plot utama film dan sub-plot saling berkaitan menuturkan kisah demi kisah dengan berkali-kali memutar cerita kembali ke masa lalu dan masa sekarang. Kecermatan penyusunan naskah menjadi nilai lebih untuk film ini. Twist demi twist hadir semakin banyak dan semakin pahit menjelang film berakhir. Adegan ke adegan terhubung dengan hubungan sebab akibat yang jelas. Tidak ada satupun adegan yang kosong dan tidak perlu, karena keterkaitan yang nyaris tanpa celah. Editing membantu memberikan koneksi-koneksi menarik antara adegan satu dengan lainnya.

Film ini mencampurkan drama, thriller, slasher dan fantasi dengan sangat baik. Pada beberapa scene terasa akan sangat mencekam karena adegan-adegan yang begitu miris. Seperti ketika film memasuki paruh terakhir saat setiap orang tua memutuskan untuk membabi buta secara bergantian menyiksa Mr. Baek. Pada beberapa adegan kita akan dibuat haru dan tersentuh dengan bagaimana Gum Ja mengorbankan hidupnya demi kejahatan yang tidak pernah dilakukannya, salah satunya adalah adegan dia memotong jari kelingkingnya. Pada bagian lain kita akan masuk pada fantasi-fantasi Gum Ja membunuh Mr. Baek. Rangkaian berbagai macam genre di dalamnya tidak membuat film kedodoran, justru sebaliknya, alur dan cerita film menjadi semakin menarik hingga membawa kita pada ujung kisah yang semakin kelam, sadis dan perih.

Sosok Lee Gum Ja berhasil mendapatkan simpati yang sangat besar dari penonton. Sesuai dengan premis film ini tentunya. Tidak peduli bagaimana cara Gum Ja untuk melakukan segala macam rencana dan tindakannya, penonton dari awal dibuat telah berpihak padanya. Bahkan saat Gum Ja memilih cara menghakimi Mr. Baek dengan sadis, penonton "bersorak girang" menanti siksaan demi siksaan yang akan dihadapi Mr. Baek. Chan Wook berhasil memberikan sebuah pemahaman tentang dunia dendam yang begitu dalam bagi Gum Ja pada penonton. Bahkan ketika bertumpu pada pikiran sehat akan terasa sangat berlebihan jika kita melihat tindakan-tindakan Gum Ja dalam membalaskan dendamnya. Tetapi kemudian semua dipatahkan oleh Chan Wook. Dia menciptakan sebuah pemikiran baru tentang dendam yang pahit dan perih akan sangat lumrah jika dibalaskan dengan cara yang membabi-buta tanpa ampun.

Park Chan Wook mengambil teori hukum rimba. Kejahatan dibayar dengan kejahatan. Kesakitan dibayar dengan kesakitan. Pembunuhan dibayar dengan pembunuhan. Tidak ada baris-baris kalimat undang-undang hukum dan pengadilan. Chan Wook berusaha memperlihatkan dendam dengan menyelami dunia pikiran manusia yang paling dalam dan kelam. Gum Ja dibuat begitu merana dan menderita sehingga memiliki alasan yang kuat membalaskan dendam tanpa ada lagi rasa kasihan dalam dirinya. Dan Gum Ja berhasil mempengaruhi orang lain yang tanpa nurani bisa mempertaruhkan belas kasihan demi amarah yang masih berkecamuk atas dasar kehilangan orang yang disayang.

Tidak jauh berbeda dengan 2 film sebelumnya, Sympathy for Mr.Vengeance dan Oldboy, naskah yang baik dan nyaris tanpa celah, didukung akting mumpuni dari para pemerannya, segi teknis juga menjadi faktor pendukung yang kuat. Dengan alur maju mundur, editing menjadi nilai lebih untuk ditonjolkan dengan sempurna. Sinematografi yang memanfaatkan berbagai macam warna-warna soft untuk membedakan masa hidup Gum Ja. Satu lagi yang juga sangat memberi nilai lebih untuk film ini adalah musik-musik pengiring film gubahan Choi Seung Yeong, rasakan kebencian, ketegangan, ketakutan, kesedihan dan kebahagiaan menyatu dengan adegan-adegan dalam setiap bingkai film ini.

Lee Young Ae yang memerankan Gum Ja bermain sangat luar biasa. Pribadi-pribadi Gum Ja yang unik ditampilkannya dengan akting terbaiknya. Tidak salah kemudian salah satu aktris senior Korea Selatan ini mendapatkan banyak penghargaan Aktris Terbaik atas usahanya menghidupkan peran Gum Ja, yaitu dari Cinemanila International Film Festival, Stiges Catalonian International Film Festival, Baek Sang Film Awards, Blue Dragon Film Awards dan Oscarnya Korea, Grand Bell Film Awards. Aktor Choi Min Sik yang dikenal sebagai Oh Dae Soo dalam Oldboy dipercaya kembali oleh Chan Wook, kali ini sebagai Mr. Baek. Choi Min Sik berhasil memberikan penampilan terbaiknya, sebagai seorang guru yang terlihat begitu baik dan sayang pada murid-muridnya yang pada sisi lain adalah monster yang sakit jiwa membunuh murid-muridnya sendiri. 

Park Chan Wook sendiri memenangkan penghargaan sutradara terbaik dari Bangkok International Film Festival. Selain itu mendapatkan penghargaan film terbaik dari Venice Film Festival, Sarasota Fil  Festival & Fantasporto. Selain itu juga mendapatkan nominasi film berbahasa asia terbaik dari Hong Kong Film Awards dan nominasi Screen International Awards dari European Film Awards

Jangan Menyebut Dua Frasa Itu

by: Marhalim Zaini  


 Yang hidup di tepi laut, tak takut menyambut maut.
Tapi ia, juga orang-orang yang tubuhnya telah lama tertanam dan tumbuh-biak-berakar di kampung nelayan ini, adalah sekelompok paranoid, yang menanggung kecemasan pada dua frasa. Dua frasa ini merupa hantu, bergentayangan, menyusup, menyelinap, dan acapkali hadir dalam sengkarut mimpi, mengganggu tidur. Dan saat bayangannya hadir, ia membawa kaleidoskop peristiwa-peristiwa buruk, yang menyerang, datang beruntun. Maka, ketahuilah bahwa dua frasa itu sesungguhnya kini hadir lebih sebagai sebuah energi negatif yang primitif, selain bahwa ia juga sedang menghadirkan dirinya dalam sosoknya yang energik, molek dan penuh kemegahan.
Tapi mampukah ia, si renta yang bermulut tuah, bertahan untuk tidak menyebut dua frasa itu, yang sesungguhnya telah demikian lekat bersebati di ujung lidahnya, bagai asin laut yang ia cecap setiap hari dan terus mengalir di air liur ke-melayu-annya.
"Ingat ya Tuk, Datuk tak boleh menyebut dua frasa itu. Bahaya!" Demikian proteksi dari yang muda, dari cucu-cicitnya. Dan merekalah yang sesungguhnya membuat ia kian merasa cemas. Di usianya yang susut, ia justru merasa kekangan-kekangan datang menelikung. Tak hanya kekangan fisik karena kerentaan yang datang dari kodrat-kefanaan tubuhnya sendiri, tapi juga kekangan-kekangan yang kerap ia terima dari orang-orang di luar tubuhnya. Orang-orang yang sebenarnya sangat belia untuk mengetahui rasa asam-garam, sangat rentan terhadap patahnya pepatah-petitih di lidah mereka.
Tapi, di saat yang lain, ia merasa aneh. Kenapa dua frasa itu, akhir-akhir ini demikian bergaram di lidahnya, tetapi demikian hambar di lidah orang muda? Tengoklah mereka, orang-orang muda, mengucapkan dua frasa itu seperti angin yang ringan, terlepas begitu saja, dan terhirup tak berasa. Dua frasa itu mereka ucapkan di merata ruang, merata waktu. Dari ruang-ruang keluarga, sampai dalam percakapan di kedai kopi. Dan setelahnya, secara tersurat, memang tak ada satu pun peristiwa buruk yang tampak terjadi, seperti layaknya ketika ia, si lelaki renta, yang mengucapkannya.
"Datuk kan bisa melihat akibatnya, ketika dua frasa itu keluar dari mulut Datuk yang bertuah itu. Badai topan datang menyerang dari arah laut. Habis semua rumah-rumah penduduk. Lintang-pukang seisi kampung nelayan. Nah, kalau Datuk memang tak ingin melihat anak-cucu-cicit datuk porak-poranda, ya sebaiknya Datuk jangan sesekali menyebut dua frasa itu. Dan Datuk tak boleh iri pada kami, ketika kami dengan sangat bebas bisa menyebut dua frasa itu, karena Datuk sendiri tahu bahwa lidah kami memang tak sebertuah lidah Datuk."
Tapi ia, si lelaki renta itu, selalu merasakan ada yang aneh. Instingnya mengatakan bahwa ada badai-topan dalam wujudnya yang lain yang sedang menyerang, sesuatu yang tersirat. Sejak ia mengunci mulut untuk tidak menyebut dua frasa itu, justru kini ia menyaksikan persitiwa-peristiwa buruk yang lain datang, sedang menyusun kaleidoskopnya sendiri. Tengoklah, kenapa kian menjamurnya anak-anak perempuan yang hamil luar nikah, dan anak-anak terlahir tak ber-Ayah. Kenapa kian dahsyatnya anak-anak muda yang tenggen, mengganja, dan saling membangun anarkhi dan istana-istana mimpi dalam tubuh mereka. Kadang-kadang malah mereka kini tampak serupa robot, atau bahkan kerbau dungu, atau serupa mesin-mesin yang bergerak cepat tak berarah, membabi-buta. Akibatnya, kampung nelayan yang serupa tempurung ini, kini lebih tampak sebagai sebuah ruang diskotek tua yang pengap, sebuah ruang yang sedang menanggung beban masa lampau sekaligus beban masa depan.
Dan tengoklah pertikaian demi pertikaian yang terjadi. Jaring Batu hanyalah sebuah sebab, yang membuat perahu-perahu dibakar, orang-orang diculik, dipukul, dan perang saudara kemudian membangun tembok yang sangat angkuh di antara orang-orang Pambang dan orang-orang Rangsang. Hanya egoisme sesat yang membuat mereka lupa bahwa mereka sesungguhnya berasal dari satu rumpun, satu ras, satu suku. Dan mereka para nelayan, yang mestinya adalah para penjaga tepian ini, tapi kini mereka telah menjelma para nelayan yang meruntuhkan tepian ini.
Peristiwa buruk lain yang kini melanda adalah timbulnya beragam penyakit yang aneh. Penyakit-penyakit yang tak bisa disembuhkan hanya dengan tusukan jarum suntik pak mantri, dan kebal dari obat-obat generik yang dijual di kedai-kedai runcit. Dan anehnya lagi, penyakit-penyakit itu membuat si penderita seperti terkunci mulutnya untuk bisa mengucapkan dua frasa itu. Dan biasanya, ujung dari deritanya, mereka kebanyakan menjadi bisu, tak mampu mengucapkan sepatah kata pun selain erangan.
Dan ia, si lelaki renta itu, seolah dapat memastikan bahwa sebab dari semua ini adalah karena kelancangan mereka yang menyebut dua frasa itu secara sembarangan. Tak hanya itu, dua frasa itu kini bahkan telah diperjual-belikan ke mana-mana, karena rupanya ia bernilai tinggi karena dianggap eksotis dan jadi ikon historis. Maka dua frasa itu diproduksi, seperti layaknya memproduksi kayu arang atau ikan asin. Dan anehnya, mereka tidak percaya bahwa lidah mereka sendiri sebenarnya juga bergaram. Tapi mungkin garam dengan rasa asinnya yang lain.
Sesekali ia, lelaki renta itu, pernah juga melemparkan saran, "Sebenarnya kalian juga tak boleh menyebut dan memperlakukan dua frasa itu secara sembarangan. Buruk padahnya nanti." Tapi, saran dari seorang renta yang bersuara parau, bagi mereka, hanya bagai suara gemerisik semak dalam hutan. Dan mereka selalu menjawab dalam bisik yang sumbang, "Maklum, masa mudanya tak sebahagia kita…"
***
Tapi di malam yang mendung itu, ia tak menduga tiba-tiba segerombolan orang secara agak memaksa, membawanya ke tepian laut. Lelaki renta itu bingung, kenapa orang-orang yang biasanya selembe saja padanya, kini demikian bersemangat memintanya untuk ikut bersama mereka. Apakah ada sebuah perayaan? Setahu ia, di sepanjang bulan ini tak ada perayaan hari besar maupun perayaan adat. Dan, kalaupun ada, biasanya ia lebih sering tidak diundang, karena mungkin dianggap telah demikian uzur, atau mungkin kehadirannya membuat orang-orang muda tak bebas berekspresi, karena pastilah terkait dengan pantang-larang.

Sesampainya di tepian laut, ia menyaksikan orang-orang telah duduk bersila, sebagian bersimpuh, di atas pasir hitam. Mereka tampak tertunduk demikian hikmat. Di bibir pantai, terlihat beberapa buah perahu yang berbaris, seperti barisan meriam yang moncongnya mengarah ke laut, siap diluncurkan. "Ah, inilah satu frasa itu, yang tampaknya akan dilayarkan ke satu frasa yang lain," pikir lelaki renta itu. Dan ia langsung dapat menduga bahwa akan ada sebuah upacara pengobatan tradisional. Tapi siapa yang sakit?

Seorang muda, tiba-tiba seperti berbisik ke telinga lelaki renta itu. "Datuk, kami mengundang Datuk ke sini untuk meminta Datuk supaya bisa mengobati kami semua." Lelaki renta yang dipanggil Datuk itu agak terkejut. Keningnya berkerut. Ia tidak melihat ada gejala atau tanda-tanda bahwa orang-orang yang berada di sini dalam keadaan sakit. Yang tampak olehnya adalah sekumpulan besar orang yang seperti sedang berdoa. Tapi pemuda itu berbisik lagi, "Datuk, kami semua yang berkumpul di sini sedang menderita penyakit bisu. Sebagian mereka telah benar-benar bisu dan tak bisa mengucapkan sepatah kata pun. Dan sebagian kecil yang lain, termasuk saya, tak bisa mengucapkan dua frasa itu, Datuk. Sementara untuk melakukan upacara ini tentu harus mengucapkan dua frasa itu kan, Datuk? Untuk itu, kami semua meminta Datuk untuk melakukan prosesi pengobatan… …pengobatan…pengobatan…tak bisa Datuk, saya betul-betul tak bisa mengucapkannya." Lidah pemuda itu seperti tersangkut saat hendak menyebut sebuah frasa.
Lelaki renta itu seperti tak percaya. Tapi kepalanya tampak mengangguk-angguk perlahan. Lalu ia mendekatkan mulutnya ke telinga pemuda, dan membalas berbisik, "Anak muda, kalian pernah melarangku untuk mengucapkan dua frasa itu. Kini kalian juga yang meminta aku untuk mengucapkannya. Apakah kalian tak takut badai topan yang akan menyerang? Kalian tak takut maut?"
Pemuda itu tertunduk ragu. Tak lama kemudian berbisik kembali. "Datuk, kami semua pasrah. Kalaulah ditakdirkan untuk menerima badai topan, dan kami harus mati karenanya, mungkin itu akan lebih baik daripada kami harus hidup membisu, dan tak bisa mengucapkan dua frasa itu…"
Bibir lelaki renta itu mengguratkan senyum. Ia kini tak yakin bahwa ia akan mampu bertahan untuk tidak menyebut dua frasa itu, yang sesungguhnya telah demikian lekat bersebati di ujung lidahnya, bagai asin laut yang ia cecap setiap hari dan terus mengalir di air liur ke-melayu-annya. Paling tidak di dalam hatinya, ia senantiasa mengucapkan dua frasa itu menjadi sebuah kalimat, Lancang Kuning yang tersesat di tepian Selat Melaka

Malam-Malam Nina


Ini sudah hari ke empat Nina kelihatan murung. Kian hari wajahnya semakin mendung dengan mata nanar dan bisu. Kerjanya setiap hari bangun dengan masai lalu duduk termenung.

Sebetulnya itu bukan urusanku. Karena Nina bukan siapa-siapaku. Ia hanya menyewa sebuah kamar di rumahku. Ia tinggal bersamaku baru dua bulan ini. Tetapi entah kenapa aku langsung menyukainya.

Rumahku tidak terlalu besar. Juga tidak terlalu bagus. Sederhana saja. Rumahku berada di kampung yang dindingnya rapat dengan tembok rumah sebelah. Ada tiga kamar kosong. Tetapi aku tinggal sendirian. Karenanya aku menyewakan kamar-kamar kosong itu untuk menunjang hidupku di samping aku membuka sebuah warung kelontongan kecil di depan rumah.

Penghuni kamar pertama adalah Anita. Ia cantik dan selalu wangi karena ia bekerja sebagai seorang beauty advisor kosmetik terkenal di counter kosmetik sebuah plaza megah. Anita supel, periang dan pandai berdandan.

Kamar kedua dipakai oleh Tina. Ia juga cantik. Katanya ia bekerja di sebuah restaurant. Tetapi yang mengantarnya pulang selalu bukan laki-laki yang sama. Kepulan rokok mild juga tidak pernah lepas dari bibirnya yang seksi.

Tetapi aku bukan tipe pemilik kost yang rese’. Mereka kuberi kunci pintu supaya bila pulang larut malam tidak perlu mengetuk-ngetuk pintu dan membuatku terganggu. Aku tidak terlalu pusing dengan apa pun yang mereka kerjakan. Toh mereka selalu membayar uang kost tepat waktu. Bukan itu saja, menurutku, mereka cukup baik. Mereka hormat dan sopan kepadaku. Apa pun yang mereka lakoni, tidak bisa membuatku memberikan stempel bahwa mereka bukan perempuan baik-baik.

Nina datang dua bulan yang lalu dan menempati kamar ketiga. Kutaksir usianya belum mencapai tiga puluh tahun. Paling-paling hanya terpaut dua tiga tahun di bawahku. Ia tidak secantik Anita dan Tina, tetapi ia manis dan menarik dengan matanya yang selalu beriak dan senyumnya yang tulus. Ia rapi. Bukan saja kamarnya yang selalu tertata, tetapi kata-katanya pun halus dan terjaga. Ia membuatku teringat kepada seorang perempuan yang nyaris sempurna. Perempuan di masa lampau yang…ah…aku luka bila mengingatnya.

Oh ya, Nina juga tidak pernah keluar malam. Ia lebih banyak berada di rumah, bahkan ia tidak segan-segan membantuku menjaga warung. Kalaupun ia keluar rumah, ia akan keluar untuk tiga sampai empat hari setelah menerima telepon dari seseorang laki-laki. Laki-laki yang sama.

Bukan masalah kemurungannya saja yang aneh bagiku. Tetapi sudah dua minggu terakhir Nina tidak pernah keluar rumah. Bahkan tidak menerima atau menelepon sama sekali. Yang tampak olehku hanyalah kegelisahan yang menyobek pandangannya. Dan puncaknya adalah empat hari terakhir ini.

"Nina, ada apa? Beberapa hari ini kamu kelihatan murung…," aku tidak bisa mengerem lidahku untuk bertanya, ketika kami hanya berdua saja di rumah. Warung sudah tutup pukul sepuluh malam. Anita dan Tina belum pulang. Tetapi Nina kulihat masih termangu dengan mata kosong.

Ia menoleh dengan lesu setelah sepersekian menit diam seakan-akan tidak mendengarkan apa yang aku tanyakan. Kemurungan tampak menggunung di matanya yang selalu beriak. Tetapi ia cuma menggeleng.

"Apa yang sekiranya bisa Mbak bantu?" aku tidak peduli andai ia menganggapku rese’.

Lagi-lagi hanya gelengan. Ia masih duduk seperti arca membatu. Tapi mampu kubaca pikirannya gentayangan. Rohnya tidak berada di tubuhnya. Entah ke mana mengejewantah.

Nina memang tidak pernah bercerita tentang dirinya, tentang orang tuanya, asalnya, sekolahnya, perasaannya, atau tentang laki-laki yang kerap meneleponnya. Aku sendiri juga tidak pernah menanyakannya. Mungkin ada hal-hal yang tidak ingin dia bagi kepada orang lain. Maka biarlah ia menyimpannya sendiri. Bukankah aku juga seperti itu?

Sepi terasa lindap, seakan menancapkan kuku-kukunya mengoyak angin yang terluka. Hening itu benar-benar ada di antara aku dan Nina. Aku merasa tersayat. Karena sunyi seperti ini sudah kusimpan lima tahun lamanya. Kenapa sekarang mendadak hadir kembali?

Lalu aku bangkit dari dudukku, mengambil satu seri kartu sebesar kartu domino. Tetapi yang tergambar bukan bulatan-bulatan merah. Tetapi berbagai macam bentuk berwarna hitam. Aku menyimpannya sudah lama. Sejak mataku selalu berembun, lalu embun itu menitik di ujung hati. Sejak sepi yang tanpa warna mulai mengakrabi aku. Sejak itulah aku mulai berbagi resah dengan kartu-kartu ini. Mereka banyak memberiku tahu tentang apa saja yang aku ingin tahu.

Anita dan Tina sering melihatku bermain dengan kartu-kartuku di tengah malam ketika mereka pulang. Sejak melihatku bermain dengan kartu-kartu ini, mereka juga sering ikut bermain. Ada saja yang mereka ceritakan padaku melalui kartu-kartu ini. Jualan yang sepi, para langganan yang pelit memberikan tips sampai kepada pacar-pacar mereka yang datang dan pergi.

Aku menyulut sebatang dupa India. Aromanya semerbak langsung memenuhi ruangan. Aku suka. Setidaknya mengusir hampa yang sejak tadi mengambang di udara. Kukocok setumpuk kartu itu di tanganku. Kuletakkan di atas meja di depan Nina.

"Mari, temani Mbak bermain kartu. Ambillah satu…," ujarku.
Mata Nina memandangku. Bibirnya tetap rapat. Tetapi matanya mulai berembun. Dengan sebuah gerakan lamban tanpa semangat ia mengambil sebuah kartu. Lalu membukanya.

"Ah! Hatimu sedang kacau, sedih, kecewa, tidak menentu. Kau terluka," gumamku ketika melihat kartu yang dibukanya.

Seperti aku dulu…, aku melindas gelinjang rasa yang sudah lama kupendam.
Aku mulai membuka kartu-kartu berikutnya. "Kau sedang memikirkan seseorang,…ah bukan…kau merindukannya…penantian… jalan panjang…menunggu…kau menunggu seorang laki-laki?"
"Ya," suaranya gamang terdengar seperti datang dari dunia lain.

Kuteruskan membuka kartu-kartu itu. "Menunggu… halangan… perempuan…dia beristri?" kutanya ketika tampak olehku gambaran seorang perempuan di atas kartu itu.
"Ya," kali ini suaranya seperti cermin retak berderak. Ia luka sampai seperti sekarat.

Kurasakan derak-derak itu sampai menembus batinku. Kenapa seperti yang pernah kurasakan lima tahun lalu?
"Kamu mencintainya, Nina?"
"Amat sangat!" kali ini ia menjawab cepat.

Kuhela napas panjang. Kubiarkan kartu-kartu berserakan di antara aku dan Nina. Kulihat jantungnya seperti bulan tertusuk ilalang.

"Tetapi ia mengecewakanku, Mbak. Ia mengkhianati aku." Ia tidak mampu lagi menyembunyikan suara gemeretak hatinya yang bagaikan bunyi tembikar terbakar.

"Ia mengkhianati kamu? Bukannya ia yang mengkhianati istrinya? Bukankah ia sudah beristri?" aku bertanya, berpura-pura bodoh karena berusaha menyingkirkan masa lalu yang mulai menggigiti sanubariku. Perih itu masih terasa.

"Ya. Dia beristri. Tapi istrinya jahat sekali. Ia ingin meninggalkannya. Ia mencintaiku. Kami punya rencana masa depan," jawabnya naïf dan lugu.

Astaga! Seperti itukah diriku lima tahun silam? Aku benar-benar seperti melihat cermin diriku.

Kepulan asap dupa melemparku ke kepulan asap lain yang sama pekatnya lima tahun yang lalu. Aku berada di dalam kepulan-kepulan asap rokok tebal dari mulut para lelaki berduit yang kutemani duduk-duduk, minum, sampai ke kamar tidur. Para lelaki yang mabuk kepayang karena kecantikanku sebagai primadona di sebuah wisma di kompleks hiburan malam. Para lelaki kedinginan yang butuh kehangatan. Para lelaki kesepian yang butuh pelukan. Para lelaki yang tidak tahu lagi ke mana bisa menghamburkan uang mereka yang berlebihan.

"Istrinya jahat bagaimana? Namanya istri ya wajar saja dia tidak suka kalau suaminya berhubungan dengan perempuan lain," sahutku enteng atau tepatnya aku sudah terbiasa untuk "mengenteng-entengkan" jawaban yang ujung-ujungnya akan membuatku terluka. "Yang salah, ya suaminya. Sudah beristri kok masih bermain api. Tetapi namanya laki-laki ya begitu…," sambungku pelan.

Laki-laki memang begitu, desahku. Laki-laki memang suka bermain api. Laki-laki memang suka mendua. Seperti para lelaki yang datang dan pergi di atas ranjangku. Mereka terbakar hangus gairah memberangus, haus sampai dengus-dengus napas terakhir. Lalu mereka pergi setelah sumpalkan segepok uang di belahan dadaku.

"Tetapi Bayu tidak seperti itu!" sergah Nina cepat. "Bayu mencintaiku, Mbak! Ia tidak akan meninggalkanku."

Ya! Prihadi juga tidak seperti laki-laki lain. Ia juga mencintaiku. Prihadi tidak seperti laki-laki lain yang meniduriku dengan kasar. Ia bahkan sangat lemah lembut untuk ukuran "membeli" kehangatan dari seorang perempuan seperti aku. Karena Prihadi, maka aku tidak mau menerima tamu yang lain. Ia menginginkan aku hanya untuknya, maka ia membeli dan menebusku dari induk semangku. Lalu ia membawaku keluar dari wisma itu dan membelikan aku sebuah rumah kecil. Ia pahlawan bagiku. Ia tidak meninggalkanku. Bahkan memberikan benih kehidupan baru yang tumbuh di dalam tubuhku. Aku bahagia sekali. Tetapi kemudian aku memutuskan untuk meninggalkannya.

Kuputuskan untuk meninggalkan Prihadi ketika istrinya datang menemuiku dengan begitu anggun dan berwibawa. Berhadapan dengan perempuan yang begitu berkilau, tinggi, langsing dengan kulit kuning, ayu dengan wajah priyayi, tutur katanya lemah lembut, membuatku benar-benar merasa rendah dan tidak ada artinya. Ia sama sekali tidak menghardik atau mencaci-makiku. Ia sungguh nyaris sempurna untuk ukuran seorang perempuan, kecuali…belum bisa memberikan anak untuk Prihadi!
"Kamu Ningsih? Aku istri Prihadi. Namaku Indah."
Oh, ia sungguh-sungguh seindah namanya.

"Aku tahu hubunganmu dengan suamiku," ujarnya dengan menekankan benar-benar kata "suamiku" itu. "Dan aku tahu kamu pasti perempuan baik-baik," lagi-lagi ia memberikan tekanan dalam kepada kata-kata "perempuan baik-baik" yang jelas-jelas ditujukannya kepadaku. "Sebagai perempuan baik-baik, kamu seharusnya tidak menjalin hubungan dengan laki-laki yang sudah beristri…dengan alasan apa pun," kali ini ia menekankan setiap kata-katanya sehingga membakat wajahku terasa panas.

"Nina, sebagai perempuan baik-baik, seharusnya kamu tidak berhubungan dengan laki-laki yang sudah beristri…dengan alasan apa pun…," aku mengulangi kalimat yang kusimpan lima tahun yang lalu untuk Nina. Sebetulnya itu klise, bukan? Hanya sekadar untuk menutupi gundah gulanaku yang entah kenapa merayapi seluruh permukaan batinku.

"Tetapi, Mbak, Bayu mencintaiku…," Nina menjawab. Jawaban itu juga yang kuberikan lima tahun yang lalu kepada perempuan yang nyaris sempurna itu.

Tetapi ketika itu, ia justru memberikan senyum manisnya. Ia benar-benar tanpa ekspresi marah. "Laki-laki biasa seperti itu. Tetapi kamu kan perempuan baik-baik. Walaupun Prihadi menggoda, mengejar dan mencintaimu, tetapi bukankah sudah sepantasnya kamu menolaknya? Kamu kan tahu kalau dia sudah beristri?" lagi-lagi ia membuatku pias.
Aku berusaha mem-photocopy kata-kata usang itu untuk Nina.
"Tetapi aku juga mencintai Bayu," ia melenguh getir.

Kurasakan getir yang sama ketika aku memberikan jawaban itu pula kepada istri Prihadi. Bahkan waktu itu aku masih memberikan tambahan jawaban. "Aku mengandung anak Prihadi…." Kuharap dengan jawabanku itu ia tidak akan mengusik perasaanku dengan kata-katanya yang lemah lembut tetapi terasa menampar-nampar.

"Baiklah, aku mengerti kalau kamu mencintai Prihadi," ia tertawa pelan tetapi sungguh terasa kian menusuk-nusuk.
Astaga! Ia tertawa! Terbuat dari apakah perempuan ini?

"Kalau kau mencintai seseorang, maka kau akan melakukan apa saja yang akan membuatnya bahagia kan?" Ia pandai sekali bermain kalimat. Sebentar kalimat pernyataan, sebentar kalimat tanya. Tetapi tidak ada satu pun dari kalimatnya yang membakatku merasa nyaman.

Hei! Konyol benar! Sudah syukur-syukur ia tidak memaki-makimu…, cetus batinku.
"Ya, aku akan melakukan apa saja untuk membuat Prihadi berbahagia."

"Nah, kau tahu kalau Prihadi adalah tokoh masyarakat yang cukup terkenal dan disegani di kota ini, kan? Ia memiliki kedudukan, kekayaan, karisma, dan nama baik. Apakah bisa kau bayangkan bagaimana reputasi Prihadi kalau sampai terbongkar mempunyai hubungan dengan perempuan lain…dan bahkan mempunyai anak di luar nikah?"

Oh…ia mempunyai tata bahasa yang sempurna! Ia sama sekali tidak menggunakan kata-kata kasar. Ia memakai istilah "mempunyai hubungan dengan perempuan lain", ia tidak mengatakan "mempunyai simpanan bekas pelacur", ia mengatakan "anak di luar nikah", ia tidak mengucapkan "anak haram". Apakah itu berarti ia menghargaiku? Tetapi kenapa aku justru tidak merasa dihargai? Aku justru merasa dipermalukan. Ataukah memang pantas aku dipermalukan?
"Bagaimana? Apakah situasi itu akan baik untuk Prihadi?"
"Tidak," aku tidak mempunyai pilihan lain kecuali kata-kata itu.

Ia tertawa pelan tetapi kali ini benar-benar seperti tawa seorang algojo yang berhasil memengal kepala seorang tawanan yang sama sekali tidak melawan.

"Lalu bagaimana caramu untuk membuat Prihadi bahagia? Kamu tidak mau merusak semua yang sudah dimiliki Prihadi, kan?" Ia benar-benar algojo yang sempurna. Ia memenggal kepalaku tanpa rasa sakit sedikit pun.

Tinggal aku yang menggelepar, terkapar, tanpa pernah merasa sekarat meregang nyawa.

"Kalau kamu mencintai Prihadi, tinggalkan dia, gugurkan kandunganmu. Kamu pergi jauh dan memulai kehidupan baru. Aku akan membantumu. Kamu cantik sekali, Ningsih. Aku yakin, tidak akan sulit bagimu untuk mencari laki-laki baik yang belum beristri," ia menutup eksekusinya dengan kata-kata pelan tetapi penuh tekanan. "Jelas? Kuharap kamu cukup pandai untuk bisa mengerti semuanya," tandasnya.

Lalu tidak banyak yang bisa kubantah ketika ia "membantuku" menyelesaikan semuanya. Ia melakukan transaksi jual beli atas rumah yang kutempati. Ia menggantinya dengan sejumlah uang yang lebih dari cukup. Ia mengantarku ke dokter dan membayar semua ongkos "mengeluarkan" calon kehidupan yang bersemayam di tubuhku. Ia membelikan aku tiket pesawat. Ia mengantarku sampai ke bandara. Ia memeluk dan mencium pipiku, lalu berbisik, "Selamat menempuh hidup baru, Ningsih. Tolong, jangan ganggu kehidupan Prihadi. Terima kasih atas pengertianmu. Kamu memang perempuan yang baik…"
Oh! Ia benar-benar perempuan yang sempurna!

Sampai pesawatku tinggal landas, aku tidak bisa menitikkan air mata sama sekali. Apa yang perlu kutangisi? Perempuan itu tidak memaki atau menghinaku. Bahkan ia "membantuku" dan memberiku banyak uang untuk memulai kehidupan baru di kota yang jauh dari mereka. Terasa jutaan sembilu menikam-nikam. Hatiku terasa sakit tetapi mataku hanya bisa mengembun.

Sejak itu, aku berteman dengan kartu-kartu ini. Kartu-kartu ini pemberian induk semangku. Aku belajar dari dia membaca kartu-kartu ini. Dahulu, dari kartu-kartu ini, aku tahu apakah aku akan mendapat banyak tamu atau tidak? Apakah Prihadi akan datang atau tidak.
Ah, kutepis nama itu cepat-cepat.

Aku melanjutkan jalannya kartu-kartu yang masih berserakan di atas meja. Aku tidak mau mengingat masa lalu yang sudah sekian lama kukubur. Aku tidak mau menoleh ke belakang karena sangat menyakitkan. Toh, dengan uang yang kubawa, aku bisa membangun kehidupan baru, membeli rumah ini, membuka warung kecil, menerima kos-kosan, bertemu Nina…

"Halangan…rintangan…rindu…ah…ia tidak mempunyai uang!" Aku berusaha mengalihkan rasa lukaku dengan membaca kartu-kartu Nina. Lagi-lagi ramalan itu yang kubaca dari kartu-kartu yang bertebaran. "Bingung…perempuan…halangan…Ia merindukanmu juga. Tetapi ia bingung bagaimana harus menghadapi istrinya," cetusku.

Nina tertawa sumbang. "Bayu memang tidak punya uang. Istrinya yang kaya. Istrinya yang memegang kendali perusahaan. Istrinya sudah mengetahui hubungan kami. Dia lalu mengusirnya keluar dari perusahaan. Sekarang ia menghindar dariku, Mbak! Ia lebih mencintai kekayaan istrinya daripada perasaanku!"

"Bayu mengecewakanku, Mbak," sentaknya. Kali ini embun-embun di matanya berguguran menjadi rintik hujan. Mengalir deras menganak di lekuk-lekuk pipinya. "Bayu menipu hatiku, Mbak! Ia takut tidak bisa hidup kaya bila pergi bersamaku. Aku benci padanya!" Hujan itu sudah menjadi badai. Riuh rendah bergemuruh seakan puting beliung yang akan merubuhkan apa saja. Lara berkubang seperti seonggok daun-daun gugur di matanya yang tersayat.
"Apa yang kau inginkan darinya?"
"Aku ingin dia sakit…sesakit yang kurasakan!"

Aku tercenung. Sesakit itu pula yang pernah kurasakan. Betapa rasa benci itu melebihi rasa sakit. Aku juga benci setengah mati kepada Prihadi. Kenapa ia tidak mencariku kalau ia mencintaiku? Kenapa sejak istrinya yang begitu sempurna itu menemuiku, ia juga tidak pernah muncul? Lalu ketika istrinya "membantuku" untuk menyelesaikan semuanya, ia juga tidak ada kabar berita? Padahal sudah kucari seakan sampai ke ujung dunia. Apakah itu sudah merupakan kesepakatan mereka berdua?

Akhirnya, aku merasa pencarianku sia-sia. Ia kucari sampai ke ujung mimpi. Kubatin, kupanggil, kunanti, dengan seluruh pengharapan dan kerinduan. Tetapi ruang hampa yang kudapati. Sehingga, kuputuskan untuk bersahabat saja dengan rasa benci dan rasa sakit. Mungkin akan menjadi lebih ramah dan menyenangkan. Ternyata benar. Membenci lebih mudah daripada memaafkan. Sakit lebih nikmat daripada pengharapan. Jadilah rasa benci dan sakit yang kusimpan untuk Prihadi.

Malam demi malam, kusumpahi kandungan perempuan yang nyaris sempurna itu. Aku tidak rela menggenapi kesempurnaannya sebagai seorang perempuan dengan seorang anak, sementara ia menyuruh dokter untuk menyendok dengan mudah sebiji kacang hijau kecil di dalam rahimku. Biarkan ia juga menikmati sepi yang sama seperti sepi yang dibelikannya untukku.

Sejak malam itu, malam-malam Nina juga menjadi sibuk. Nina menjadi sangat menyukai malam seperti aku. Setiap malam, ia mengirimkan rasa sakit yang dirasakannya kepada Bayu.

dont badmoodyyyyyyyy

Sampai kapan mau bad mood terus? sampai kapan mau buang-buang waktu? ngerjain ini gak bad mood, ngerjain itu gak bad mood, ngerasain ini gak mood, ngerasain itu gak mood. Wake up girl!! sekarang yang harus kamu pikir dan lakukan itu banyak, jangan cuma berpangku tangan saja. Ayo lakukan sesuatu yang kamu bisa. Paling tidak kamu sudah memanfaatkan waktu yang ada untuk to do positive something..!! ^^
Lupakan saja kejadian -kejadian yang sudah terlewati yang memang sesungguhnya tidak kamu kehendaki itu. Doraemon memang punya mesin waktu, tapi Doraemon hanyalah tokoh kartun saja dan tidak ada di dunia nyata, mesin waktu itu hanyalah benda imajinasi saja, dan tidak mungkin kan kita memutar kembali lagi ke waktu lampau yang sudah terjadi itu?
Penyesalan, iri hati, kesedihan, kebencian terhadap diri sendiri, marah, cemburu, itu adalah hal yang wajar terjadi di dunia ini. Itu berarti dirimu normal, karena dirimu berhasil menjadi makhluk sosial bersama orang lain. Ya walaupun dirimu pernah merasa tidak dianggap dan ketidak adilan. Paling tidak, kamu masih punya "sedikit" kekuatan dan semangat untuk bangkit dan tetap tersenyum dari dalam pikiran dan lubuk hatimu tersebut.
Mengalah bukan berarti kalah. Mengalah adalah suatu sikap toleransi untuk diri sendiri agar merasakan kemenangan yang tertunda. Ya! Mengalah adalah menang yang tertunda. Dalam dunia ini kesempatan akan selalu ada. Kesempatan yang datang secara langsung ataupun kesempatan yang tertunda. Kesempatan tertunda itulah yang akan terjadi saat kita mengalah. :)
Bahagia rasanya memiliki keluarga yang selalu peduli terhadap anggota keluarga masing-masing. Terutama orang tua. Orang tua gak akan pernah berhenti untuk membantu semaksimal mungkin anak-anaknya agar berhasil. Namun, ini juga berarti jangan membuat dirimu menjadi manja dan mengandalkan mereka. Ingat! Yang menentukan ini semua adalah dirimu sendiri. Mulailah untuk belajar mengatur pola pikir dan pola tindak agar semua yang ingin kamu lakukan bisa berjalan maksimal. Belajar pula bertanggung jawab, belajar mandiri, belajar yakin terhadap pilihanmu. Selalu semangat dan positive thinking.
Semakin dewasa dan semakin bertambahnya usia tentu akan semakin membuat dirimu takut. Kamu takut untuk merasakan apa yang akan terjadi di dalam hidupku nanti hari demi hari? (andai saja mulai sekarang kita bisa melihat di esok hari atau masa depan kita seperti apa... *mengkhayal*)
Ketakutan dalam diri kita untuk menghadapi kehidupan adalah suatu kewajaran. Kita takut untuk merasakan kegagalan, takut merasa diasingkan dari sekelompok orang-orang, takut merasa dikhianati, takut merasa dibohongi, takut merasa tidak dianggap, takut merasa dilecehkan, takut dijauhi oleh orang-orang sekitar, takut merasa dicaci maki, takut merasa dipermalukan, dan sebagainya..
Ketakutan merupakan "setan" dalam dirimu. Usirlah "setan" tersebut dengan rasa percaya diri, yakin, keikhlasan, kesabaran, dan manisnya senyummu. :)
Tuhan tidak akan membiarkan umatnya merasakan ketakutan, selama kita selalu percaya pada Nya dan mengandalkan kekuatan Nya. Tuhan adalah sahabat sejatimu yang paling abadi dan setia, girl.. :)
Jangan penah takut untuk mencoba. Jika gagal, coba lagi, jika jatuh, segera bangkit. Ubah bad mood mu menjadi good mood. Setiap orang di dunia ini memiliki cerita kehidupan masing-masing. Sutradara di dunia bukan dirimu, girl! Yang kamu ingini sesuka hatimu. Sutradara di dunia ini adalah Tuhan kita Yesus Kristus. Dialah yang memiliki naskah jalan cerita hidup kita yang sebenarnya. Relakan dan ikhlaskan semua terjadi apa adanya. Kebahagian dan kesuksesan yang datang padamu akan datang secara tidak terduga, girl!!
Gak ada yang sia-sia di dunia ini jika dirimu selalu yakin dan berusaha, girl! Jangan seperti air yang mudah terbawa arus. Jadilah "diam yang yakin dan menyenangkan"

Senin, 10 September 2012

ini adalah orang ter autis idiottttttttt yg pernah gua kenal hahah kalo udah bareng mereka gua ga pernah bisa berhenti ketawa 7 hari 7 malam (lebay)


GOOD MORNING INDONESIAKUUUUUUUUUUUUU!!!!!!!
Fiuhhhh gak terasa udah pagi lagi dan pagi ini sama seperti pagi yang kemarin, kemarinnya lagi daaaaaaaaan kemarin kemarinnya lagi, kembali beraktifitas seperti kemarin
selamat pagi sayang have nice day semangat yah buat hari ini. itulah ritual yg setiap pagi gua lakuin sebelum bangkit dari kasur iyaaaaaaaa sms si doi haha
lalu gua mandi dan jangan lupa buat solat subuh dan berdoa sama tuhan semoga dapat memulai aktifitas hari ini dengan baik dan lancar! amiiiiiiiin
lalu gua ambil tas gua dan langsung pake sepatu dan berangkattttttttttttttttttttt yah yah yah seperti inilah pemandangan ibu kota yg gua liat, ga ada perubahan dan tetep kaya gini sama seperti apa yg gua jalanin sekarang ga ada perubahan hahaha tapi inilah hidup gua! gua nyaman dgn apa yg sedang gua jalanin saat ini.

indah....

Minggu, 09 September 2012

paris express trailer - coursier trailer.flv

A Monster in Paris International - Official Trailer [HD]

Un Monstre a Paris (A Monster In Paris)

Film bioskop terbaru kali ini menayangkan sebuah film berjudul "a Monster In Paris", menceritakan tentang kecelakaan kimia di sebuah laboratorium, yaitu hewan kecil sejenis kutu berubah bentuk menjadi monster yang mengerikan. Monster tersebut menghantui masyarakat dikota Paris, Perancis. Raoul (Adam Goldberg) dan Emile (Jay Harrington) merasa bertanggung jawab atas kecelakaan tersebut. Mereka dengan sekuat tenaga mencari dan memburu Monster tersebut. Kejadian ini dimanfaatkan oleh Salah satu kantor di kota Paris yaitu komisaris Maynott (Danny Huston), Orang tersebut memanfaatkan situasi ini untuk mencari popularitas agar terpilih menjadi walikota. Bersama sang ajudan, Pate (Bob Balaban), mereka mengumpulkan kekuatan untuk membunuh sang monster demi menaikkan citranya saat kampanye pemilihan Walikota Paris. 
Masalah lain mulai muncul ketika Maynott, Pate, dan kepolisian setempat sedang memburu Francoeur dengan segala cara. Raoul dan Emile yang sebelumnya ingin menangkap sang monster, kini justru berusaha menyelamatkan Francoeur untuk mengembalikannya ke bentuk semula. Film ini berlatar tahun 1910-an ini, menampilkan adegan klasik yang tidak mengurangi kesan indahnya kota Paris. Selain menampilkan adegan yang bikin ketawa, film ini juga menyisipkan unsur musikal, terlihat saat Lucille dan Francoeur dengan bakat bernyanyi dan permainan gitarnya yang lihai. 
Kesan romantis kota Paris pun tetap ditampilkan, dalam kisah asmara antara Emile dan Maude (Madeline Zima). Un Monstre a Paris (A Monster in Paris) diprediksi akan mampu menghibur penonton dari berbagai kalangan dan usia. walaupun film ini berjenis animasi, tetapi ceritanya bisa dinikmati orang dewasa. Film ini sangat cocok untuk tontonan keluarga karena mempunyai cerita yang segar bertema kejujuran dan menonjolkan sifat kemanusiaan.