Director : Park Chan Wook
Screenplay : Park Chan Wook, Jeong Seo Gyeong
Cast:
Lee Young Ae – Lee Gum Ja
Choi Min Sik – Mr. Baek
Kim Si Hoo – Geun Shik
Kim Byeong Ok – Preacher
Nam Il Woo – Detectice Choi
Oh Dal Su – Mr. Chang
Lee Seung Sin – Park Yi Jeong
Kwon Yea Young - Jenny
Sympathy for Lady Vengeance melengkapi trilogy revenge yang dipersembahkan oleh Park Chan Wook. Film yang berjudul asli Chinjeolhan geumjassi
ini berhasil memberikan semacam orgasme bagi penonton yang menunggu dua
tahun sejak Oldboy, film keduanya rilis tahun 2003. Kepuasan yang
didapat dari menonton film adalah penyempurnaan aksi sadis dan mencekam
Chan Wook yang kali ini memanfaatkan perempuan sebagai tokoh yang
membalaskan dendam tanpa ampun. Kepuasan dengan detail cerita, akting,
teknis yang saling mendukung dengan hasil sangat maksimal. Meskipun
berdiri sendiri, film ini tentu mendapatkan perbandingan dengan kedua
film sebelumnya. Sympathy for Lady Vengeance berhasil mendekati
“kegilaan” Oldboy meskipun secara penyutradaraan dan naskah, Oldboy
terasa lebih sempurna dan maksimal.
Jika
Sympathy for Mr. Vengeance dan Oldboy lebih terfokus pada 3 karakter
utamanya. Maka dalam film ini kita diperkenalkan pada belasan karakter
yang membantu usaha balas dendam yang akan dilakukan oleh Lee Gum Ja
(yang dimainkan dengan sempurna oleh Lee Young Ae). Lee Gum Ja
ditampilkan dengan berbagai macam karakter dan pribadi mewakili masa
dimana dia harus menghadapi hidupnya yang pahit. Kita akan melihat Lee
Gum Ja yang bak seorang malaikat ketika menghabiskan masa-masa hidupnya
di penjara. Kita juga akan melihat sosok Lee Gum Ja yang dingin, tanpa
hati, penuh kebencian ketika dia mulai merencanakan untuk membalaskan
dendam saat keluar dari penjara. Kita juga akan melihat bagaimana Lee
Gum Ja yang sangat lugu, hamil luar nikah dan tidak bisa berbuat
apa-apa saat harus menerima hukuman atas tuduhan pembunuhan anak-anak.
Terakhir kita juga akan melihat Lee Gum Ja berusaha menjadi ibu dengan
limpahan kasih sayang untuk anaknya yang selama ini diadopsi dan tinggal
di Australia. Karakter-karakter Lee Gum Ja yang beragam inilah yang
menjadi pengait dari kisah kisah bagaimana awal hidupnya hingga harus
terjebak 13 tahun dalam penjara dan menyusun rencana dengan sempurna
untuk membalaskan dendam pada Mr. Baek (Choi Min Sik).
Lee
Gum Ja menghabiskan waktu 13 tahun atas tuduhan kejahatan yang tidak
pernah dilakukannya. Sangat berat baginya menghabiskan masa 13 tahun di
lapas perempuan yang penuh berbagai karakter kriminal wanita dengan
berbagai macam tindak tanduk yang unik dan aneh. Lee Gum Ja menjadikan
dirinya sosok yang begitu dicintai semua orang. Bahkan untuk menolong
salah satu rekan sel-nya, Gum Ja dengan "tangan dingin" membunuh salah
satu narapidana yang memang menjadi momok bagi lainnya. Hari dimana dia
dibebaskan menjadi hari yang membuatnya berikrar akan membalaskan
masa-masa kelam hidupnya dipenjara. Hari yang menjadi pembuka baginya
untuk kembali mengumpulkan puing-puing berserakan dari masa lalunya
untuk diperbaiki. Dengan cara seperti apa? Dengan cara yang tidak biasa.
Sangat tidak biasa.
Perlahan
Lee Gum Ja berhasil memasuki kehidupan Mr. Baek, seorang guru TK yang
sebenarnya melakukan tindak pembunuhan belasan anak usia belia yang
dituduhkan padanya.
Bagaimana
sempurnanya aksi balas dendam ini? Gum Ja mengumpulkan bukti-bukti
bahwa dirinya tidak bersalah. Mendatangi semua orang tua dari anak-anak
yang telah dibunuh dan menyakinkan semua orang tua tersebut untuk
memberikan pembalasan yang setimpal pada Mr. Baek. Tidak mudah memang
untuk mengumpulkan para orang tua yang masih terpukul atas terbunuhnya
anak mereka, meskipun telah 13 tahun berlalu. Tentu banyak
penolakan-penolakan dari mereka, namun didasari atas amarah yang masih
mereka miliki, Gum Ja berhasil menyakinkan para orang tua ini. Dengan
bantuan teman-temannya selama berada di penjara, Gum Ja mulai
menjalankan aksi balas dendam ini. Bukan hanya dendamnya, tetapi dengam
belasan orang tua yang telah kehilangan “malaikat” kecil mereka.
Sementara
memulai aksi balas dendamnya, Gum Ja mencoba untuk kembali mencari
“rasa” untuk menjadi seorang ibu. Gum yang pada masa lalunya pernah
melahirkan seorang anak perempuan yang kala itu tidak bisa dirawatnya
karena masih sekolah. Jenny (Kwon Yea Young) diadopsi oleh sebuah
keluarga di Australia. Gum Ja mendatangi keluarga angkat Jenny dan
melakukan pendekatan pada mereka untuk bisa kembali dekat dengan Jenny
dan membawanya pulang ke Korea. Bersama Jenny, Gum Ja menjadi pribadi
yang lain, seorang ibu yang ternyata belum begitu siap menghadapi segala
macam pertanyaan tentang ketidakhadirannya selama 13 tahun lebih usia
Jenny. Kedekatannya dengan Jenny seperti memberi sebuah oase bagi
hidupnya yang penuh dendam dan amarah.
Dengan
menggunakan alur maju mundur, naskah buatan Park Chan Wook dan Jeong
Seo Gyeong perlahan membuka satu persatu jalan hidup pahit Lee Gum Ja.
Dengan rapi plot utama film dan sub-plot saling berkaitan menuturkan
kisah demi kisah dengan berkali-kali memutar cerita kembali ke masa lalu
dan masa sekarang. Kecermatan penyusunan naskah menjadi nilai lebih
untuk film ini. Twist demi twist hadir semakin banyak dan
semakin pahit menjelang film berakhir. Adegan ke adegan terhubung dengan
hubungan sebab akibat yang jelas. Tidak ada satupun adegan yang kosong
dan tidak perlu, karena keterkaitan yang nyaris tanpa celah. Editing
membantu memberikan koneksi-koneksi menarik antara adegan satu dengan
lainnya.
Film
ini mencampurkan drama, thriller, slasher dan fantasi dengan sangat
baik. Pada beberapa scene terasa akan sangat mencekam karena
adegan-adegan yang begitu miris. Seperti ketika film memasuki paruh
terakhir saat setiap orang tua memutuskan untuk membabi buta secara
bergantian menyiksa Mr. Baek. Pada beberapa adegan kita akan dibuat haru
dan tersentuh dengan bagaimana Gum Ja mengorbankan hidupnya demi
kejahatan yang tidak pernah dilakukannya, salah satunya adalah adegan
dia memotong jari kelingkingnya. Pada bagian lain kita akan masuk pada
fantasi-fantasi Gum Ja membunuh Mr. Baek. Rangkaian berbagai macam genre
di dalamnya tidak membuat film kedodoran, justru sebaliknya, alur dan
cerita film menjadi semakin menarik hingga membawa kita pada ujung kisah
yang semakin kelam, sadis dan perih.
Sosok
Lee Gum Ja berhasil mendapatkan simpati yang sangat besar dari
penonton. Sesuai dengan premis film ini tentunya. Tidak peduli bagaimana
cara Gum Ja untuk melakukan segala macam rencana dan tindakannya,
penonton dari awal dibuat telah berpihak padanya. Bahkan saat Gum Ja
memilih cara menghakimi Mr. Baek dengan sadis, penonton "bersorak
girang" menanti siksaan demi siksaan yang akan dihadapi Mr. Baek. Chan
Wook berhasil memberikan sebuah pemahaman tentang dunia dendam yang
begitu dalam bagi Gum Ja pada penonton. Bahkan ketika bertumpu pada
pikiran sehat akan terasa sangat berlebihan jika kita melihat
tindakan-tindakan Gum Ja dalam membalaskan dendamnya. Tetapi kemudian
semua dipatahkan oleh Chan Wook. Dia menciptakan sebuah pemikiran baru
tentang dendam yang pahit dan perih akan sangat lumrah jika dibalaskan
dengan cara yang membabi-buta tanpa ampun.
Park
Chan Wook mengambil teori hukum rimba. Kejahatan dibayar dengan
kejahatan. Kesakitan dibayar dengan kesakitan. Pembunuhan dibayar dengan
pembunuhan. Tidak ada baris-baris kalimat undang-undang hukum dan
pengadilan. Chan Wook berusaha memperlihatkan dendam dengan menyelami
dunia pikiran manusia yang paling dalam dan kelam. Gum Ja dibuat begitu
merana dan menderita sehingga memiliki alasan yang kuat membalaskan
dendam tanpa ada lagi rasa kasihan dalam dirinya. Dan Gum Ja berhasil
mempengaruhi orang lain yang tanpa nurani bisa mempertaruhkan belas
kasihan demi amarah yang masih berkecamuk atas dasar kehilangan orang
yang disayang.
Tidak
jauh berbeda dengan 2 film sebelumnya, Sympathy for Mr.Vengeance dan
Oldboy, naskah yang baik dan nyaris tanpa celah, didukung akting mumpuni
dari para pemerannya, segi teknis juga menjadi faktor pendukung yang
kuat. Dengan alur maju mundur, editing menjadi nilai lebih untuk
ditonjolkan dengan sempurna. Sinematografi yang memanfaatkan berbagai
macam warna-warna soft untuk membedakan masa hidup Gum Ja. Satu lagi
yang juga sangat memberi nilai lebih untuk film ini adalah musik-musik
pengiring film gubahan Choi Seung Yeong, rasakan kebencian, ketegangan,
ketakutan, kesedihan dan kebahagiaan menyatu dengan adegan-adegan dalam
setiap bingkai film ini.
Lee
Young Ae yang memerankan Gum Ja bermain sangat luar biasa.
Pribadi-pribadi Gum Ja yang unik ditampilkannya dengan akting
terbaiknya. Tidak salah kemudian salah satu aktris senior Korea Selatan
ini mendapatkan banyak penghargaan Aktris Terbaik atas usahanya
menghidupkan peran Gum Ja, yaitu dari Cinemanila International Film
Festival, Stiges Catalonian International Film Festival, Baek Sang Film
Awards, Blue Dragon Film Awards dan Oscarnya Korea, Grand Bell Film
Awards. Aktor
Choi Min Sik yang dikenal sebagai Oh Dae Soo dalam Oldboy dipercaya
kembali oleh Chan Wook, kali ini sebagai Mr. Baek. Choi Min Sik berhasil
memberikan penampilan terbaiknya, sebagai seorang guru yang terlihat
begitu baik dan sayang pada murid-muridnya yang pada sisi lain adalah
monster yang sakit jiwa membunuh murid-muridnya sendiri.







Tidak ada komentar:
Posting Komentar