Menghadapi carut-marutnya Indonesia, banyak teori-teori dari berbagai
lapisan masyarakat, mulai dari teori-teori para petinggi sampai rakyat
biasa. Dimana-mana rakyat menyalahkan pemerintah yang korup,
keputusan-keputusan yang tidak membuat Indonesia lebih baik, serta
ketidakmampuan pemerintah untuk melenyapkan segala kesulitan yang mereka
alami. Ada juga pihak lain yang menyalahkan moral dan sikap warga
negara Indonesia sendiri. Terakhir yang saya dengar ada yang menyalahkan
gaya hidup orang Indonesia yang tidak disiplin termasuk para penjaga
keamanan dan yang membuat peraturan. Mungkin saja anda sudah mendengar
teori yang lain. Jika dengan menyalahkan orang lain seperti itu
Indonesia bisa bangkit tentu seharusnya Indonesia sudah tidak terpuruk
begini.
Saya sering sekali mendengar
obrolan semacam ini di kalangan politikus warung kopi. Pemerintah korup
dan tidak peduli rakyat selalu jadi bahan diskusi yang tak ada
habis-habisnya. Apalagi tentang praktek-praktek KKN di sekitar kami,
tentang sogokan jadi PNS atau hubungan saudara yang sangat
menguntungkan. Ada juga topik lain yang sempat jadi headline news, yaitu
tentang kebudayaan Indonesia yang banyak dipatenkan pihak asing.
Obrolan mereka sudah nyaris menyamai omongan para pengamat budaya.
Beberapa
waktu setelah itu saya melihat mereka lagi di sebuah distro. Dengan
langkah super pede mereka memamerkan baju bermerk import. Bagus dan
mahal memang, cukup untuk mendongkrak prestise di kalangan orang
Indonesia yang memuja merk luar negeri. Tanpa mereka sadar bahwa
produksi dalam negeri digerogoti dan dijajah akibat ulah mereka sendiri.
Di
lingkungan yang lebih luas keadaannya tak jauh beda. Demo para
mahasiswa dalam rangka menentang pihak-pihak yang sudah mencuri
kebudayaan Indonesia patut diancungi jempol. Keberanian mereka pastilah
sudah menyentuh orang-orang berwenang. Di sisi lain, banyak dari kita
mungkin sudah tidak tertarik lagi dengan kesenian daerah. Kita lebih
sering mengundang seksi dancer ketimbang tarian daerah sendiri. Belum
lagi lidah orang Indonesia yang sekarang semakin menyamai lidah bule.
Kebanyakan lebih doyan menyantap Pizza, Humburger, Spaghetti, dan
sejenisnya. Makanan semacam gudeg, rendang, semur, dan lainnya mungkin
sudah ketinggalan jaman. Jadi seandainya kita tidak peduli pada kekayaan
kita sendiri lalu ada yang memungutnya apakah si pemungut harus salah
seratus persen? Seharunya kita sadar.
Sesungguhnya kita bisa
menjaga Indonesia dengan sederhana. Dengan belajar mencintai Indonesia
dan belajar lebih menghargai produk Indonesia akan sangat bermakna.
Apalagi jika kita belajar untuk tidak saling menyalahkan namun selalu
berusaha memperbaiki diri sendiri. Sedikit perbuatan sesungguhnya jauh
lebih berharga dari segudang omongan. Mungkin kalimat ”Apa yang bisa Aku
lakukan untuk negeriku” akan lebih terasa manfaatnya dibandingkan
kalimat ”Mereka harus bisa melakukan sesuatu untuk negeri ini.”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar