Mungkin semua yang kutulis bukanlah hal berharga, bahkan tak bermakna.
Tapi setidaknya dengan kutulis mereka, mereka menjadi karya terbaik yang
aku tulis. Dan ketika banyak tulisan lain yang lebih baik dari
tulisanku, aku mungkin hanya bisa menuliskan hal yang lebih baik dari
tulisanku sebelumnya.
Mereka menghiburku, membawaku ke dunia
mimpi dimana hanya ada aku dan mereka. Kami punya dunia itu sendiri,
beralaskan kata dan berlangitkan mimpi.
Meski
tulisanku bukanlah tulisan terbaik yang pernah ada, aku tetap akan
menuliskan mereka dengan cara terbaik yang aku bisa. Seperti caraku
menggenggam bintang, meski yang kugenggam masih sebatas awan.
Lalu
sepasang sayap adalah punya mereka. Aku hanya bagian dari yang mereka
punya. Seperti dunia itu, yang aku masuki ketika sebaris kalimat aku
tulis. Dunia tanpa aturan tempat tinggal si cerita.
Cerita
membawaku pada kata, kata membawaku pada makna, lalu makna menghilang
dan aku tidak lagi ingat siapakah makna yang merasuki ceritaku. Makna
tidak menuju pikiran, ia menuju hati dimana semua logika tak lagi
kembali pada kata tapi menuju rasa. Rasa itu menguasai tubuhku dan
terciptalah alunan kata yang tak kumengerti.
Hati dan cerita
bersahabat denganku. memberi semua yang aku tulis saat ini. Makna tak
pernah kutemui. Ia hanya mau berbicara padaku melalui hati. Ia
bersembunyi jauh lebih dalam sambil menertawakan kebodohanku. Dan yang
lebih bodoh, hati tak pernah kenal logika. Jadi bagaimana otak
menggambarkannya?
Mereka semua liar, cerita, hati, dan makna.
Mereka hanya datang ketika mau saja. Uang, terkenal pujian, ketika aku
memikirkan itu mereka selalu menghindariku. Mungkin mereka benci, atau
aku yang terbebani.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar